Bungkam Kritik, Mobil Listrik Pertama Ferrari “Luce” Ludes Terjual Hanya dalam Dua Bulan
Kadang-kadang, riuh rendah opini netizen di media sosial sama sekali tidak mencerminkan realitas pasar yang sesungguhnya. Ketika Ferrari pertama kali memperkenalkan Luce—mobil listrik (EV) perdana mereka—pada Mei lalu, reaksi publik sangat keras. Desainnya yang radikal memicu gelombang kritik, bahkan membuat saham pabrikan berlogo kuda jingkrak ini sempat anjlok di bursa efek.
Banyak pengamat dadakan di internet memprediksi Luce akan menjadi produk gagal. Namun, waktu membuktikan sebaliknya. Mobil listrik ultra-mewah berkapasitas lima penumpang ini justru mencatatkan kesuksesan komersial yang luar biasa dalam waktu singkat.
Target Penjualan Setahun Habis dalam Dua Bulan
Berdasarkan laporan dari Financial Times, Ferrari berhasil memenuhi target penjualan Luce untuk tahun ini hanya dalam waktu dua bulan setelah peluncuran. Pabrikan asal Italia tersebut awalnya hanya menargetkan penjualan kurang dari 500 unit untuk model seharga €555.000 (sekitar Rp9,5 miliar) ini.
Nyatanya, kuota tersebut langsung habis dipesan oleh para kolektor berkantong tebal. Keberhasilan ini sekaligus membungkam keraguan bahwa loyalis Ferrari tidak tertarik pada kendaraan bertenaga baterai murni.
Mengapa Ferrari Luce Begitu Diminati Meski Sempat Dihujat?
- Desain Eksklusif Jony Ive: Mobil ini dirancang secara kolaboratif oleh mantan kepala desainer Apple, Jony Ive, melalui firma desainnya, LoveFrom.
- Loyalitas Konsumen yang Kuat: Konsumen Ferrari dikenal sangat loyal dan tidak sensitif terhadap harga. Sebagian besar pembeli Luce adalah pemilik beberapa model Ferrari sebelumnya yang menginginkan mobil harian yang lebih praktis namun tetap prestisius.
- Daya Tarik Pasar China: Sekitar 20 persen dari total produksi dipastikan mendarat di China, pasar yang sangat menyukai sedan listrik performa tinggi dengan siluet aerodinamis.
“Bagi konsumen tradisional Ferrari, memiliki sebuah EV pertama dari merek legendaris ini bukan sekadar tentang fungsionalitas, melainkan tentang status dan nilai investasi jangka panjang.”
Badai Kritik yang Sempat Mengguncang Maranello
Sebelum sukses besar ini terjadi, peluncuran Luce sempat diwarnai drama. Desain bodi berbentuk baji (wedge-shaped) yang diusungnya dinilai terlalu melenceng dari pakem estetika Ferrari yang biasanya agresif dan berlekuk tajam. Netizen bahkan sempat membandingkan tampilan Luce dengan Nissan Leaf, sementara yang lain mengklaim produsen EV asal China akan dengan mudah mengalahkan performanya dengan harga yang jauh lebih murah.
Kritik tidak hanya datang dari jagat maya. Mantan bos Ferrari, Luca Cordero di Montezemolo, juga sempat menyuarakan ketidakpuasannya terhadap arah baru yang diambil perusahaan ini. Tekanan tersebut sempat membuat saham Ferrari merosot hingga 8 persen dalam sehari setelah debut Luce.
Sentuhan Magis Kuda Jingkrak Tetap Terjaga
Melihat mobil lewat layar ponsel memang kerap memberikan impresi yang salah. Pengalaman visual langsung tampaknya berhasil meyakinkan para miliarder untuk segera menulis cek pembelian. Terlebih lagi, sejumlah ulasan awal dari media otomotif global yang telah menjajal prototipe Luce mengonfirmasi bahwa mobil ini tetap menawarkan sensasi berkendara khas Ferrari yang presisi dan emosional.
Pada akhirnya, logo kuda jingkrak di kap mesin dan jaminan performa khas Maranello terbukti jauh lebih kuat dibanding sentimen negatif di kolom komentar internet. Ferrari Luce kini resmi memulai era elektrifikasi mereka dengan kepala tegak.







