Philips meluncurkan Hue Bridge 2.0 pada hari Senin, yang mengintegrasikan produk rumah pintar perusahaan dengan HomeKit dari iOS. Perangkat baru ini memungkinkan pengguna untuk mengontrol perangkat pintar melalui perintah suara menggunakan smartphone yang mendukung Siri.
Hue Bridge 2.0 berbentuk persegi, menggantikan model sebelumnya yang bulat. Perangkat ini kompatibel dengan lampu pintar Philips yang sudah ada dan akan mendukung produk pintar baru dari Philips di masa mendatang. Integrasi ini bersifat saling menguntungkan: HomeKit dapat mengakses lampu Philips, sementara rumah yang sudah dilengkapi pencahayaan pintar Philips dapat mengotomatisasi perangkat Internet of Things (IoT) mereka melalui iOS.
Hub baru ini mendukung koneksi hingga 50 perangkat pintar dan kompatibel dengan lebih dari 450 aplikasi. Hue Bridge 2.0 dijual seharga US$59, atau dalam paket starter seharga US$199 yang mencakup tiga lampu Hue.
Siri Membuka Kemampuan Baru
Asisten digital Apple, Siri, membawa dinamika baru ke dalam ekosistem rumah pintar Philips. Dengan integrasi Siri dan HomeKit, pengguna dapat mengaktifkan atau menonaktifkan skema pencahayaan kustom. Contohnya, pengguna dapat meminta Siri untuk menyalakan lampu di sepanjang lorong menuju kamar mandi atau menyalakan pencahayaan secara penuh di ruang kerja.
Melalui aplikasi Hue, pengguna juga dapat menggunakan Siri untuk mengontrol pencahayaan dari jarak jauh. Lampu pintar ini dapat dihubungkan dengan internet, umpan berita, dan kotak masuk email.
Tantangan di Pasar IoT
Philips merupakan salah satu pemain di pasar IoT dan rumah pintar yang terus berkembang. Meskipun ada upaya dari Philips, Google, dan Apple, pasar perangkat pintar ini masih jauh dari matang.
Charles King, analis utama Pund-IT, menyatakan bahwa hambatan terbesar bagi gerakan rumah pintar adalah “kemudahan penggunaan dan nilai yang menarik.” Ia menambahkan bahwa meskipun kemudahan penggunaan relatif mudah dipahami, menemukan nilai yang benar-benar menarik bisa lebih sulit.
Matt Swatsky, direktur manajemen produk di Lutron Electronics, menekankan pentingnya keandalan. “Perangkat harus berfungsi,” katanya. “Anda tidak ingin harus me-reboot pencahayaan Anda. Jadi kami pikir ketiga hal ini sangat penting.”
Selain itu, “ketakutan konsumen” akibat janji-janji besar yang tidak terpenuhi dari teknologi sebelumnya juga menjadi penghalang. King menyebutkan bahwa konsumen telah beberapa kali kecewa oleh perangkat “generasi berikutnya” yang ternyata tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Relevansi untuk Indonesia: Jembatan Menuju Masa Depan Rumah Pintar
Peluncuran Hue Bridge 2.0 oleh Philips, yang mengintegrasikan produk rumah pintar dengan ekosistem Apple melalui Siri dan HomeKit, menawarkan gambaran tentang arah perkembangan teknologi rumah pintar secara global. Bagi Indonesia, inovasi semacam ini menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kenyamanan dan efisiensi hunian.
Meskipun penetrasi rumah pintar di Indonesia mungkin masih dalam tahap awal, integrasi yang mulus dengan asisten suara seperti Siri dapat menjadi katalisator bagi adopsi yang lebih luas. Kemampuan untuk mengontrol pencahayaan dan perangkat lain melalui perintah suara tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga dapat menjadi langkah awal menuju hunian yang lebih hemat energi dan terhubung.
Tantangan yang dihadapi pasar global, seperti kemudahan penggunaan, nilai yang jelas, dan keandalan, juga relevan untuk Indonesia. Keberhasilan adopsi teknologi rumah pintar di tanah air akan sangat bergantung pada bagaimana produsen dapat mengatasi tantangan-tantangan ini, serta bagaimana mereka dapat menyesuaikan produk dan layanan agar sesuai dengan kebutuhan dan daya beli konsumen Indonesia. Pada akhirnya, inovasi seperti Hue Bridge 2.0 membuka pintu bagi masa depan rumah tangga yang lebih cerdas dan efisien, sebuah prospek yang patut diperhatikan perkembangannya di Indonesia.
Sumber: technewsworld














