Airwallex Tolak Tawaran Akuisisi Miliaran Dolar, Pilih Jalur “Perlawanan Maksimal” untuk Bangun Infrastruktur Keuangan Global
Melbourne, Australia – Jack Zhang, 34 tahun, menolak tawaran akuisisi senilai 1,2 miliar dolar dari Stripe, sebuah perusahaan pembayaran global terkemuka. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan matang-matang visi jangka panjang perusahaan rintisan yang dipimpinnya, Airwallex, untuk membangun infrastruktur keuangan global. Saat itu, Airwallex baru menghasilkan pendapatan tahunan sekitar 2 juta dolar, membuat tawaran tersebut sangat menggiurkan dengan rasio valuasi terhadap pendapatan yang mencapai ratusan kali lipat.
Latar Belakang Keputusan Strategis
Zhang mengaku sempat merenungkan tawaran tersebut selama dua minggu di San Francisco. Ia akhirnya memutuskan untuk menolak demi mengejar impiannya membangun Airwallex menjadi perusahaan yang menyediakan infrastruktur keuangan bagi bisnis untuk beroperasi secara global seolah-olah mereka adalah perusahaan lokal. Keputusan ini diperkuat oleh pandangan dua dari tiga pendiri bersama lainnya yang menolak tawaran tersebut, serta visi yang masih terbentang di papan tulis kantornya.
Saat ini, Airwallex telah mencapai pendapatan tahunan lebih dari 1,3 miliar dolar dengan pertumbuhan 85% per tahun, dan memproses volume transaksi tahunan mendekati 300 miliar dolar. Zhang menekankan bahwa pencapaian ini tidak datang dengan mudah, namun justru itulah esensi dari strategi “jalur perlawanan maksimal” yang dianutnya.
Perjalanan Zhang dan Visi Airwallex
Perjalanan Zhang dalam membangun Airwallex berakar dari pengalaman pribadinya. Dibesarkan di Qingdao, Tiongkok, ia pindah ke Melbourne pada usia 15 tahun dengan kemampuan bahasa Inggris terbatas. Untuk membiayai kuliah ilmu komputer di University of Melbourne, ia bekerja paruh waktu di berbagai tempat, termasuk menjadi bartender, pencuci piring, dan pekerja di stasiun bensin. Pengalaman masa lalu ini, ditambah dengan bertahun-tahun bekerja di perbankan investasi yang dirasanya kurang memuaskan, membentuk tekadnya untuk menciptakan sesuatu yang lebih bermakna.
Sebelum Airwallex, Zhang telah merintis sekitar 10 bisnis lain, mulai dari majalah, perusahaan pengembangan properti, hingga bisnis impor-ekspor. Ide Airwallex muncul saat ia dan rekannya, Max Li, menghadapi kesulitan dalam melakukan pembayaran internasional untuk pasokan biji kopi. Sistem perbankan koresponden yang rumit dan seringkali memakan waktu lama menjadi pemicu untuk merancang jaringan pergerakan uang global yang lebih efisien.
Membangun Infrastruktur Melalui Perizinan dan Lisensi
Airwallex kini memiliki hampir 90 lisensi keuangan di 50 pasar. Proses perolehan lisensi ini memakan waktu bertahun-tahun, bahkan di Jepang memakan waktu tujuh tahun. Di beberapa pasar berkembang, perusahaan terpaksa mengakuisisi perusahaan yang sudah memiliki lisensi dan membangun kembali teknologinya. Zhang menjelaskan bahwa kepemilikan lisensi ini krusial untuk memungkinkan Airwallex memproses dan menahan dana di ekosistemnya sendiri, berbeda dengan kompetitor yang harus segera mentransfer dana keluar.
Hal ini memberikan keuntungan signifikan, seperti memungkinkan pedagang AS untuk menyelesaikan transaksi dalam dolar Australia tanpa biaya konversi 2-3% yang biasa dikenakan oleh prosesor lain. Dengan demikian, perusahaan dapat menggunakan saldo lokal untuk membayar vendor, gaji, dan biaya pemasaran, semuanya dengan kurs antarbank. Zhang melihat ini sebagai cara agar bisnis dapat beroperasi layaknya perusahaan lokal tanpa harus mendirikan entitas fisik di berbagai negara.
“Jalur Perlawanan Maksimal” Sebagai Keunggulan Kompetitif
Pendekatan “jalur perlawanan maksimal” Zhang berarti bahwa setiap lisensi, integrasi bank, dan jalur pembayaran lokal yang dibangun Airwallex menciptakan lapisan pertahanan yang sulit ditiru oleh pesaing. Ia mencontohkan, butuh enam setengah tahun untuk mencapai pendapatan berulang tahunan 100 juta dolar, namun kemudian hanya butuh sedikit lebih dari tiga tahun untuk mencapai satu miliar dolar.
Logika kompetitifnya terletak pada kepemilikan infrastruktur dibandingkan hanya menggunakannya. Dengan mengontrol alur pembayaran secara menyeluruh, Airwallex dapat memberikan penjelasan kepada pelanggan jika terjadi masalah dan mengembangkan produk baru dengan lebih mulus. Membangun di atas infrastruktur orang lain, menurutnya, tidak akan berskala.
Persaingan yang Semakin Ketat
Meskipun awalnya beroperasi di geografi dan melayani segmen pasar yang berbeda, kini Airwallex dan Stripe semakin bersinggungan. Stripe mulai merambah pasar internasional, sementara Airwallex melakukan ekspansi ke Amerika Serikat. Pelanggan Airwallex secara historis adalah tim keuangan di Australia dan Asia Tenggara, berbeda dengan Stripe yang banyak diadopsi oleh pengembang di AS. Namun, Airwallex berupaya untuk menanamkan diri di benak para insinyur dan pengembang, sebuah tantangan branding yang diakui Zhang masih harus diatasi.
Meskipun Stripe memiliki valuasi pasar yang jauh lebih tinggi, Zhang berpendapat bahwa rasio volume pembayaran Stripe terhadap Airwallex tidak sebanding dengan perbedaan valuasi tersebut. Dengan pertumbuhan tahunan yang kuat, Airwallex dinilai semakin mendekati kesenjangan valuasi. IPO menjadi langkah selanjutnya yang diharapkan dapat semakin membuka penilaian pasar terhadap Airwallex.
Saat ini, Zhang fokus pada target jangka panjang, termasuk akuisisi satu juta pelanggan pada tahun 2030 dan pendapatan tahunan 20 miliar dolar, serta pengembangan produk keuangan otonom berbasis AI. Fondasi data keuangan yang terkumpul selama satu dekade menjadi aset strategis yang sulit ditandingi oleh kompetitor.
Kajian Dampak Ekonomi Digital di Indonesia
Keputusan Jack Zhang dan strategi “jalur perlawanan maksimal” yang diusung oleh Airwallex memberikan pelajaran berharga bagi ekosistem startup di Indonesia. Di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat transformasi digital dan ekonomi berbasis data, kisah Airwallex menekankan pentingnya membangun fondasi infrastruktur yang kuat dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, yang juga tengah berupaya memperluas akses layanan keuangan dan mendorong inklusi keuangan, model Airwallex dalam membangun ekosistem perizinan dan lisensi yang terintegrasi dapat menjadi inspirasi. Meskipun prosesnya memakan waktu dan sumber daya, kepemilikan infrastruktur secara end-to-end berpotensi menciptakan keunggulan kompetitif jangka panjang dan mengurangi ketergantungan pada platform asing yang mungkin memiliki kepentingan berbeda.
Lebih jauh lagi, fokus Airwallex pada penyediaan solusi yang memungkinkan bisnis beroperasi secara global seolah lokal, sangat relevan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia yang memiliki potensi besar untuk merambah pasar internasional. Memfasilitasi transaksi lintas batas yang efisien dan terjangkau dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekspor dan daya saing UMKM di kancah global.
Namun, tantangan dalam membangun brand awareness dan penetrasi pasar, sebagaimana diakui oleh Zhang, juga menjadi perhatian serius. Bagi Indonesia, ini berarti perlunya upaya kolaboratif antara pemerintah, regulator, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi inovasi, sekaligus memastikan bahwa solusi teknologi keuangan yang dikembangkan benar-benar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha.












