Canva Perkuat Asisten AI untuk Otomatisasi Alur Kerja Desain
Jakarta – Canva, platform desain grafis populer, baru-baru ini meluncurkan pembaruan signifikan pada asisten AI-nya, yang kini mampu merencanakan dan mengeksekusi tugas desain berdasarkan deskripsi pengguna. Fitur baru ini dirancang untuk mengotomatisasi alur kerja pembuatan konten dan aset media, sebuah kebutuhan krusial bagi para profesional desain yang menginginkan konsistensi dan efisiensi.
Asisten AI Canva versi terbaru memungkinkan pengguna untuk memberikan instruksi melalui teks, yang kemudian akan diolah oleh AI untuk memanggil berbagai alat yang relevan dan menghasilkan beberapa opsi desain. Desain yang dihasilkan bersifat dapat diedit, dengan penggunaan lapisan yang memberikan fleksibilitas kepada pengguna untuk menyesuaikan setiap aspek sesuai keinginan.
Pembaruan ini sejalan dengan upaya Canva untuk menjadikan asisten AI sebagai inti dari alur kerja pengguna, dengan penambahan fitur seperti pembuatan gambar dan situs web. Perusahaan mengintegrasikan asisten AI-nya dengan berbagai aplikasi lain seperti Slack, Gmail, Google Drive, Kalender, dan Zoom. Hal ini memungkinkan AI untuk membangun konteks dengan membaca email, percakapan, file, dan data rapat. Selain itu, kemampuan riset web juga ditambahkan, memungkinkan AI untuk menjelajahi internet demi menyelesaikan tugas.
Fitur penjadwalan kini juga tersedia, memungkinkan pengguna untuk mengatur tugas berulang yang berjalan di latar belakang. Namun, fitur ini hanya akan menghasilkan draf yang perlu ditinjau dan dipublikasikan oleh pengguna. Perbaikan juga dilakukan pada alat AI yang sudah ada, seperti generator kode AI yang kini dapat mengimpor HTML, dan kemampuan untuk menghasilkan spreadsheet berdasarkan deskripsi teks.
Canva mengklaim telah meningkatkan efisiensi model AI-nya. Model penghasil gambar Lucid Origin kini diklaim 5 kali lebih cepat dan 30 kali lebih murah, sementara model gambar-ke-video 12V menjadi 7 kali lebih cepat dan 17 kali lebih murah. Canva AI 2.0 diluncurkan dalam pratinjau riset minggu ini dan direncanakan tersedia untuk seluruh pengguna dalam beberapa minggu mendatang.
Para pesaing Canva juga dilaporkan bergerak ke arah serupa. Adobe baru-baru ini meluncurkan asisten AI Firefly yang dapat berintegrasi dengan berbagai aplikasinya, sementara Figma telah mengintegrasikan dukungan agen AI ke dalam platformnya.
Cliff Obrecht, salah satu pendiri dan COO Canva, menyatakan bahwa meskipun banyak perusahaan berupaya mengintegrasikan alur kerja, bisnis cenderung menyelesaikan langkah akhir pengeditan dan publikasi di Canva. “Kami juga bekerja sama dengan baik dengan Anthropic, Google, dan OpenAI,” ujar Obrecht. “Jika seseorang melakukan alur kerja agen mereka di produk-produk tersebut, mereka dapat memanggil Canva, mendapatkan konten, dan mengembalikannya ke LLM tersebut. Namun, mereka selalu perlu menyelesaikan tahap akhir pengeditan, kolaborasi, dan penerapan. Di situlah kami benar-benar kuat.”
Pendapatan Canva sebagian besar berasal dari individu dan tim kecil, namun bisnis enterprise perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan sebesar 100% dari tahun ke tahun. Perusahaan yang terakhir kali dinilai sebesar $42 miliar ini diperkirakan akan melakukan penawaran umum perdana (IPO) tahun depan.
Dampak AI Canva di Indonesia
Pembaruan signifikan pada asisten AI Canva ini berpotensi membawa dampak positif yang substansial bagi ekosistem kreatif dan bisnis di Indonesia. Dengan kemampuan otomatisasi alur kerja desain yang semakin canggih, platform ini dapat memberdayakan lebih banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia untuk menghasilkan materi pemasaran dan konten visual berkualitas tinggi secara lebih efisien dan terjangkau. Hal ini sangat relevan mengingat banyaknya UKM di Indonesia yang membutuhkan dukungan dalam aspek desain untuk bersaing di pasar digital. Selain itu, bagi para desainer profesional, fitur-fitur baru ini dapat membebaskan mereka dari tugas-tugas repetitif, memungkinkan mereka untuk fokus pada aspek kreatif yang lebih strategis dan inovatif. Ketersediaan fitur-fitur ini secara luas di Indonesia akan semakin mendorong demokratisasi desain dan mempercepat pertumbuhan ekonomi digital di tanah air.
Sumber: techcrunch















