Portal Space Systems Raih Pendanaan Seri A $50 Juta untuk Kembangkan Mesin Roket Generasi Baru
JAKARTA – Portal Space Systems, sebuah perusahaan rintisan yang didirikan pada tahun 2021, berhasil mengamankan pendanaan Seri A sebesar $50 juta, dengan valuasi perusahaan mencapai $250 juta. Pendanaan ini dipimpin oleh Geodesic Capital dan Mach33, dengan partisipasi dari Booz Allen Ventures, ARK Invest, AlleyCorp, dan FUSE. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan teknologi propulsi termal surya (solar thermal propulsion) yang diklaim mampu menghasilkan daya dorong tinggi untuk generasi pesawat ruang angkasa berikutnya.
Perusahaan ini berupaya mengadaptasi teknologi yang sebelumnya diteliti oleh NASA namun belum terealisasi. Teknologi propulsi termal surya bekerja dengan memusatkan panas matahari untuk memanaskan propelan, yang kemudian mendorong wahana antariksa dengan kecepatan tinggi. Berbeda dengan mesin roket konvensional yang menggunakan bahan bakar kimia atau mengubah energi surya menjadi listrik untuk pendorong bertenaga rendah, Portal Space Systems menawarkan solusi yang berpotensi lebih efisien dan bertenaga.
Jeff Thornburg, pendiri Portal Space Systems, memiliki rekam jejak yang signifikan dalam pengembangan mesin roket. Sebelumnya, ia berkontribusi dalam mengembangkan mesin Raptor di SpaceX, yang kini menggerakkan Starship. Pengalaman ini, bersama dengan para pendiri lainnya, Ian Vorbach dan Prashaanth Ravindran, menjadi fondasi bagi Portal untuk mewujudkan teknologi propulsi termal surya dalam dua tahun ke depan.
Teknologi propulsi termal surya telah diselidiki oleh laboratorium penelitian pemerintah sejak tahun 1960-an. Laporan NASA tahun 2003 menyebutkan bahwa teknologi ini menawarkan kinerja yang lebih baik dalam banyak kasus, namun pengembangannya terhambat oleh kurangnya permintaan untuk mobilitas di luar angkasa. Saat ini, dengan peningkatan pesat jumlah satelit yang diluncurkan setiap tahun dan kebutuhan militer akan pesawat ruang angkasa yang gesit, situasi tersebut telah berubah.
“Saat ini, bergerak lambat di orbit tidak lagi dapat diterima,” ujar Thornburg dalam wawancara dengan TechCrunch. “Tiongkok mampu mengungguli pesawat ruang angkasa kita. Kita membutuhkan kemampuan yang setara.”
Potensi penggunaan teknologi ini untuk keperluan pertahanan telah menarik perhatian militer Amerika Serikat. Portal Space Systems telah menerima pendanaan strategis sebesar $45 juta dari militer AS, di samping modal swasta sebesar $67,5 juta. Travis Bales, Managing Director Booz Allen Ventures, menyatakan bahwa potensi teknologi ini untuk peperangan orbital menjadi daya tarik utama.
Aaron Burnett, CEO Mach33, melihat Portal berpotensi menjadi penyedia utama mobilitas antariksa di masa depan, terutama dengan semakin banyaknya satelit yang beroperasi. “Operator satelit akan membutuhkan cara yang lebih murah untuk bermanuver agar tidak saling menghalangi,” jelasnya.
Untuk mewujudkan visinya, Portal Space Systems berencana untuk melakukan uji coba di orbit. Elektronik penerbangan perusahaan telah diluncurkan dalam misi uji coba awal minggu lalu, dan prototipe pesawat ruang angkasa lainnya dijadwalkan akan diluncurkan pada bulan Oktober. Demonstrasi prototipe mesin yang berfungsi diharapkan terjadi pada tahun 2027 dengan peluncuran pesawat ruang angkasa SuperNova pertama, yang digambarkan Thornburg sebagai “jet tempur untuk orbit.”
Kemajuan dalam manufaktur aditif dan ilmu material turut mendukung pengembangan teknologi Portal, termasuk desain Hex thruster yang mengintegrasikan konsentrator surya dan nosel. Selain itu, teknologi ini juga berpotensi menjadi dasar pengembangan sistem propulsi termal nuklir di masa depan, memungkinkan Portal untuk berkontribusi pada pengembangan lebih lanjut jika pemerintah AS siap untuk mewujudkan sistem tersebut.
Pandangan Mengenai Dampak di Indonesia
Pengembangan teknologi propulsi yang lebih efisien dan bertenaga seperti yang dilakukan oleh Portal Space Systems memiliki implikasi signifikan bagi Indonesia, mengingat posisi strategis negara kepulauan ini dalam pemanfaatan satelit untuk berbagai keperluan, mulai dari komunikasi, navigasi, hingga pemantauan sumber daya alam dan mitigasi bencana. Kemampuan untuk bermanuver dengan lebih lincah dan efisien di orbit dapat meningkatkan keandalan dan efektivitas armada satelit nasional.
Selain itu, perkembangan ini juga membuka peluang kolaborasi dan transfer teknologi di masa depan. Indonesia, melalui lembaga seperti LAPAN (sekarang BRIN) dan universitas, telah menunjukkan minat dan kapabilitas dalam bidang kedirgantaraan. Memahami dan mungkin mengadopsi teknologi propulsi termal surya atau turunannya dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat kemandirian dan kapabilitas Indonesia di kancah antariksa global, serta mendukung pengembangan ekonomi digital dan keamanan nasional.














