Meta AI Alami Lonjakan Unduhan Setelah Peluncuran Model Muse Spark
JAKARTA – Aplikasi Meta AI mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah unduhan setelah peluncuran model AI terbaru perusahaan, Muse Spark, pada Rabu lalu. Muse Spark merupakan model AI pertama yang dirilis di bawah kepemimpinan Alexandr Wang, kepala Superintelligence Labs Meta, yang direkrut dari Scale AI tahun lalu untuk merevitalisasi upaya AI perusahaan media sosial raksasa tersebut.
Menurut data terbaru dari penyedia intelijen pasar Appfigures, permintaan konsumen terhadap aplikasi Meta AI melonjak drastis, dari peringkat ke-57 sebelum peluncuran Muse Spark menjadi peringkat ke-5 di App Store Amerika Serikat pada Kamis, menandakan lonjakan unduhan baru.
Perusahaan intelijen pasar lainnya, Sensor Tower, memperkirakan bahwa Meta AI mencatat sekitar 46.000 unduhan aplikasi iOS di AS pada 8 April 2026, sebuah peningkatan sebesar 87% dari hari sebelumnya. Sementara itu, unduhan Meta AI di Android di AS hanya meningkat 3% pada hari yang sama.
Meta menyatakan bahwa model AI terbarunya, yang tersedia di web dan seluler, merupakan peningkatan signifikan dibandingkan model Llama 4 sebelumnya. Upaya ini juga merupakan langkah terbaru Meta untuk mengejar ketertinggalan dari para pesaing seperti OpenAI dan Anthropic, yang telah menelan biaya miliaran dolar dalam perekrutan talenta AI, ditambah investasi sebesar $14,3 miliar pada Scale AI.
Saat ini, Muse Spark mampu menerima input multimodal, termasuk suara, teks, dan gambar. Model ini dirancang untuk unggul dalam berbagai tugas, seperti membantu pengguna memahami kesehatan mereka dan memecahkan pertanyaan kompleks di bidang sains dan matematika. Ia juga dapat membantu dalam visual coding, memungkinkan pengguna membuat situs web dan mini-game dari prompt. Meta juga mengonfirmasi bahwa Meta AI mampu meluncurkan beberapa agen pembantu (subagents) untuk menangani pertanyaan pengguna.
Model ini dijadwalkan akan diluncurkan di platform lain, termasuk WhatsApp, Instagram, Facebook, Messenger, dan kacamata AI Meta, dalam beberapa minggu mendatang. Bersamaan dengan peluncuran model ini, aplikasi seluler dan situs web Meta AI telah diperbarui dengan tampilan dan nuansa baru, serta memungkinkan pengguna beralih antar mode tergantung pada tugas yang dihadapi.
Meskipun mengalami pertumbuhan baru-baru ini, aplikasi Meta AI masih tertinggal dari chatbot AI dari pembuat model terkemuka lainnya, termasuk ChatGPT dari OpenAI (peringkat 1), Claude dari Anthropic (peringkat 2), dan Gemini dari Google (peringkat 3).
Wang menyoroti peringkat tinggi baru ini dalam unggahan di X pada Kamis pagi, seraya mencatat bahwa aplikasi tersebut “masih terus berkembang.”
Data Appfigures menunjukkan bahwa aplikasi Meta AI telah diunduh sebanyak 60,5 juta kali di seluruh dunia di App Store dan Google Play, dengan 25 juta unduhan terjadi pada tahun ini saja. Dalam lima bulan terakhir, unduhan aplikasi Meta AI meningkat 138% dibandingkan dengan lima bulan pertama ketersediaan aplikasi tersebut.
Saat ini, India menjadi pasar terbesar Meta AI berdasarkan jumlah unduhan, diikuti oleh AS, Brasil, Pakistan, dan Meksiko.
Di luar toko aplikasi, data Sensor Tower mengindikasikan bahwa pengunjung web harian untuk Meta AI di AS meningkat lebih dari 450% dari hari ke hari, dan pengunjung web harian di AS mencapai rekor tertinggi pada 8 April 2026. Peningkatan ini lebih dari 570% dibandingkan rata-rata yang tercatat dalam 30 hari sebelumnya.
Dampak di Indonesia: Peluang dan Tantangan Aksesibilitas AI Generatif
Peluncuran dan peningkatan performa model AI seperti Muse Spark oleh raksasa teknologi global seperti Meta, secara inheren memiliki relevansi bagi Indonesia. Peningkatan pesat dalam unduhan dan penggunaan aplikasi AI ini menunjukkan tren global yang kuat menuju adopsi teknologi AI generatif. Bagi Indonesia, hal ini membuka peluang untuk peningkatan produktivitas di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, bisnis, hingga kreativitas. Kemampuan Muse Spark dalam memproses bahasa, gambar, dan bahkan membantu dalam pengkodean visual dapat menjadi alat yang berharga bagi masyarakat Indonesia untuk belajar, berinovasi, dan mengakses informasi dengan cara yang lebih efisien.
Namun, di sisi lain, tren ini juga menghadirkan tantangan. Aksesibilitas terhadap teknologi ini, termasuk stabilitas koneksi internet dan pemahaman literasi digital, menjadi kunci agar manfaat AI dapat dirasakan secara merata. Penting bagi Indonesia untuk terus mendorong pengembangan ekosistem digital yang inklusif dan memastikan bahwa kemajuan dalam teknologi AI dapat diimbangi dengan upaya pemberdayaan masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi ini secara optimal dan bertanggung jawab.













