Uber Perluas Kemitraan Cloud AWS, Manfaatkan Chip AI Amazon
Seattle, AS – Uber mengumumkan perluasan kontrak layanan cloud Amazon Web Services (AWS), Selasa lalu. Perusahaan layanan transportasi daring ini akan memanfaatkan lebih banyak fitur ride-sharing mereka di chip buatan Amazon, termasuk uji coba chip AI terbaru AWS, Trainium3.
Perluasan ini mencakup peningkatan penggunaan chip Graviton AWS, yang dikenal hemat daya dan berbasis ARM. Langkah ini dipandang sebagai manuver strategis Amazon untuk menantang kompetitor utamanya di ranah layanan cloud, yaitu Google dan Oracle.
Sebelumnya, Uber secara historis mengelola pusat data sendiri. Namun, pada tahun 2023, perusahaan ini menandatangani kesepakatan cloud multi-tahun dengan Oracle dan Google. Tujuannya adalah memindahkan sebagian besar infrastruktur TI mereka dari pusat data internal ke kedua penyedia layanan cloud tersebut.
Pada Desember lalu, Uber kembali menegaskan komitmennya. Dalam sebuah unggahan blog, perusahaan menyatakan, “Pada Februari 2023, Uber mulai bertransisi dari pusat data on-premise ke cloud menggunakan OCI dan Google Cloud Platform, menghadapi tantangan ganda dalam memindahkan beban kerja masif dan memperkenalkan instance komputasi bertenaga ARM ke lingkungan yang sebelumnya didominasi x86.”
Uber secara khusus menyoroti penggunaan chip ARM buatan Ampere di cloud Oracle dalam unggahan tersebut. Hal ini menarik mengingat sejarah kompleks hubungan antar perusahaan teknologi di Silicon Valley.
Ampere didirikan oleh Renee James, mantan petinggi Intel, setelah tidak mendapatkan promosi sebagai CEO di perusahaan tersebut. James berhasil menggalang dana untuk mendirikan Ampere, dengan Oracle memegang sekitar sepertiga kepemilikan perusahaan. Investasi ini mengharuskan James melepaskan statusnya sebagai direktur independen Oracle.
Pada Desember, Ampere diakuisisi oleh SoftBank, pesaing utamanya, dengan Oracle berhasil meraih keuntungan pra-pajak sebesar $2,7 miliar dari penjualan sahamnya. James sendiri telah meninggalkan dewan direksi Oracle pada akhir 2024 dan tidak lagi aktif di Ampere.
Oracle dilaporkan sedang mengumpulkan dana untuk pembangunan pusat data bagi OpenAI dan Stargate. Larry Ellison, pendiri Oracle, menyatakan bahwa desain chip internal tidak lagi menjadi keunggulan kompetitif, dan Oracle lebih memilih untuk membeli chip, termasuk kesepakatan besar dengan Nvidia.
Perlu dicatat bahwa Oracle, SoftBank, dan Nvidia juga terlibat dalam jaringan kesepakatan yang mengelilingi OpenAI, yang bertujuan mendanai pembangunan pusat data raksasa bagi pengembang model AI tersebut.
Kini, AWS mengumumkan bahwa mereka berhasil mendapatkan kontrak yang lebih besar dari Uber, salah satu klien utama Oracle, berkat keunggulan chip rancangan internal mereka. Uber bergabung dengan Anthropic, OpenAI, dan Apple sebagai perusahaan teknologi besar yang meningkatkan penggunaan layanan AWS, khususnya karena chip AI yang ditawarkan. Pada Desember, CEO Amazon, Andy Jassy, menyatakan bahwa Trainium telah menjadi bisnis bernilai miliaran dolar.
Relevansi bagi Indonesia: Akselerasi Digital dan Kedaulatan Data
Keputusan Uber untuk memperluas kemitraannya dengan AWS, terutama memanfaatkan chip AI buatan Amazon, menggarisbawahi tren global yang semakin kuat dalam adopsi teknologi cloud canggih. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki beberapa implikasi penting.
Pertama, hal ini menunjukkan betapa krusialnya infrastruktur komputasi awan yang efisien dan inovatif bagi perusahaan skala global. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, kemitraan semacam ini dapat mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk mengadopsi solusi cloud yang serupa demi meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing. Di sisi lain, dominasi penyedia layanan cloud global seperti AWS, Google, dan Oracle menggarisbawahi pentingnya pembangunan infrastruktur digital nasional yang kuat dan kemandirian dalam teknologi.
Kedua, fokus pada chip AI dan komputasi hemat daya seperti Graviton dan Trainium menyoroti pergeseran menuju kecerdasan buatan yang semakin terintegrasi dalam layanan sehari-hari. Indonesia perlu memastikan bahwa talenta digital dan sumber daya risetnya siap untuk memanfaatkan dan mengembangkan teknologi AI ini, bukan hanya sebagai pengguna pasif.
Terakhir, perpindahan beban kerja perusahaan besar ke penyedia layanan cloud global dapat memunculkan pertanyaan mengenai kedaulatan data dan keamanan siber. Indonesia perlu terus memperkuat regulasi dan infrastruktur untuk memastikan data warga negara dan perusahaan tetap aman dan terkendali, terlepas dari di mana data tersebut diproses. Memahami dinamika seperti yang terjadi antara Uber, AWS, Oracle, dan Google dapat menjadi pembelajaran berharga dalam merumuskan kebijakan teknologi dan digitalisasi yang berpihak pada kepentingan nasional.
Sumber: techcrunch













