Ketenaran Buatan: Bagaimana Pemasaran Digital Membentuk Persepsi Publik terhadap Seniman dan Merek
Jakarta – Sebuah laporan baru-baru ini mengungkap praktik pemasaran digital yang canggih, di mana firma seperti Chaotic Good menggunakan ribuan akun media sosial untuk menciptakan tren dan memanipulasi persepsi publik terhadap artis dan startup. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang keaslian popularitas di era digital dan bagaimana audiens dibentuk.
Laporan tersebut menyoroti kasus grup musik indie Geese, yang popularitasnya sempat memicu spekulasi sebagai “psyop” atau operasi psikologis. Ternyata, popularitas Geese sebagian didorong oleh Chaotic Good, sebuah firma pemasaran yang secara aktif menciptakan tren melalui berbagai akun media sosial. Andrew Spelman, salah satu pendiri Chaotic Good, menjelaskan bahwa strategi ini melibatkan volume postingan yang cukup besar di berbagai akun untuk mensimulasikan pergerakan tren suatu lagu.
Praktik serupa juga ditemukan pada startup teknologi, seperti aplikasi mode Phia. Pendirinya, Phoebe Gates dan Sophia Kianni, mengakui penggunaan “creator farm” yang melibatkan banyak mahasiswa untuk memproduksi video promosi Phia secara massal. Sophia Kianni menyatakan bahwa pendekatan ini berfokus pada volume, dengan sepuluh kreator yang masing-masing memposting dua kali sehari, menghasilkan total hingga 600 video.
Strategi ini memanfaatkan cara kerja umpan media sosial seperti TikTok, di mana video seringkali dilihat dalam konteks terisolasi, sehingga penonton kurang curiga terhadap promosi yang tidak organik. Fenomena ini sejalan dengan “Dead Internet Theory,” yang berpendapat bahwa konten buatan bot mendominasi web.
Perusahaan pemasaran digital ini tidak hanya menciptakan tren, tetapi juga mengontrol narasi. Mereka dapat membanjiri kolom komentar video dengan ulasan positif untuk klien mereka, mempengaruhi persepsi publik sebelum reaksi alami audiens terbentuk. Hal ini menimbulkan perdebatan, seperti yang terjadi pada grup K-pop Katseye, yang popularitasnya melalui dokumenter Netflix “Pop Star Academy” menimbulkan pertanyaan apakah dukungan penggemar murni atau hasil rekayasa.
Jesse Coren, salah satu pendiri Chaotic Good, secara terbuka mengakui bahwa “sayangnya, sebagian besar internet adalah manipulasi… Segala sesuatu di internet itu palsu.” Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan dalam membedakan antara pertumbuhan organik dan taktik pemasaran yang dirancang untuk menciptakan ilusi popularitas.
Dampak pada Indonesia: Menavigasi Lanskap Digital yang Subtil
Terungkapnya praktik pemasaran digital yang canggih ini memiliki relevansi signifikan bagi Indonesia. Dengan populasi digital yang besar dan penetrasi media sosial yang tinggi, masyarakat Indonesia rentan terhadap upaya manipulasi persepsi. Fenomena ini menuntut literasi digital yang lebih baik di kalangan konsumen untuk dapat membedakan konten otentik dari promosi yang direkayasa. Bagi para kreator dan pelaku bisnis di Indonesia, pemahaman mendalam tentang etika pemasaran digital menjadi krusial. Keberlanjutan dan kepercayaan publik akan bergantung pada transparansi dan kejujuran dalam membangun merek dan audiens, bukan pada ilusi popularitas yang diciptakan secara artifisial.
Sumber: techcrunch













