Anthropic Rilis Model AI Terbaru, Mythos, untuk Keamanan Siber
Anthropic mengumumkan pratinjau model AI terbarunya, Mythos, yang akan digunakan oleh sekelompok kecil organisasi mitra untuk keperluan keamanan siber. Model ini disebut sebagai salah satu yang “paling kuat” yang pernah dikembangkan oleh startup AI tersebut.
Model ini diperkenalkan sebagai bagian dari inisiatif keamanan baru bernama Project Glasswing. Sebanyak 12 organisasi mitra akan menerapkan Mythos untuk “pekerjaan keamanan defensif” dan mengamankan perangkat lunak kritis. Meskipun tidak dilatih secara spesifik untuk keamanan siber, Mythos akan digunakan untuk memindai kerentanan kode pada sistem perangkat lunak pihak pertama dan sumber terbuka.
Dalam beberapa minggu terakhir, Mythos dilaporkan telah mengidentifikasi ribuan kerentanan zero-day, banyak di antaranya bersifat kritis. Sebagian besar kerentanan yang ditemukan berusia satu hingga dua dekade.
Mythos adalah model serbaguna untuk sistem Claude AI Anthropic, yang diklaim memiliki kemampuan pengkodean dan penalaran agen yang kuat. Model-model terdepan Anthropic dirancang untuk tugas-tugas kompleks, termasuk pembangunan agen dan pengkodean.
Organisasi mitra yang menjadi pratinjau Mythos melalui Project Glasswing meliputi Amazon, Apple, Broadcom, Cisco, CrowdStrike, Linux Foundation, Microsoft, dan Palo Alto Networks. Melalui inisiatif ini, para mitra diharapkan dapat berbagi pembelajaran mereka agar industri teknologi secara keseluruhan dapat memperoleh manfaat. Pratinjau ini tidak akan tersedia secara umum, meskipun 40 organisasi lain akan mendapatkan akses di luar kemitraan ini.
Anthropic juga menyatakan telah melakukan “diskusi berkelanjutan” dengan pejabat federal mengenai penggunaan Mythos.
Sebelumnya, kabar mengenai Mythos bocor dalam insiden keamanan data yang dilaporkan bulan lalu. Sebuah draf memo tentang model tersebut, yang saat itu disebut “Capybara”, ditemukan dalam penyimpanan dokumen yang tidak aman. Kebocoran ini dikaitkan oleh Anthropic dengan “kesalahan manusia”. Dalam memo yang bocor tersebut, “Capybara” digambarkan sebagai model baru yang lebih besar dan lebih cerdas daripada model Opus, yang sebelumnya merupakan model terkuat mereka, dan disebut sebagai “model AI terkuat yang pernah kami kembangkan”.
Dalam kebocoran tersebut, Anthropic mengklaim model barunya jauh melampaui model publik mereka dalam area seperti pengkodean perangkat lunak, penalaran akademis, dan keamanan siber. Model ini berpotensi menimbulkan ancaman keamanan jika disalahgunakan oleh aktor jahat untuk menemukan dan mengeksploitasi bug, alih-alih memperbaikinya, yang merupakan tujuan penggunaan Mythos saat ini.
Bulan lalu, Anthropic secara tidak sengaja mengekspos hampir 2.000 file kode sumber dan lebih dari setengah juta baris kode melalui kesalahan dalam peluncuran versi 2.1.88 paket perangkat lunak Claude Code mereka. Perusahaan kemudian secara tidak sengaja menyebabkan ribuan repositori kode di GitHub dihapus saat berusaha memperbaiki kekacauan tersebut.
Koreksi 7 April 2026: Versi awal artikel ini secara keliru menyatakan jumlah mitra yang bekerja sama dengan Anthropic dalam Project Glasswing. Terdapat 12 organisasi mitra, meskipun total 40 organisasi akan memiliki akses ke pratinjau Mythos.
Dampak Mythos bagi Indonesia: Pedang Bermata Dua dalam Lanskap Digital
Peluncuran model AI canggih seperti Mythos oleh Anthropic membawa implikasi signifikan bagi lanskap keamanan siber global, termasuk Indonesia. Di satu sisi, kemampuan Mythos dalam mendeteksi kerentanan kritis dapat menjadi alat yang sangat berharga bagi pemerintah dan sektor swasta Indonesia dalam memperkuat infrastruktur digital mereka. Kemampuannya untuk mengidentifikasi ancaman yang belum diketahui (zero-day) dapat membantu mencegah serangan siber yang berpotensi melumpuhkan, melindungi data sensitif, dan menjaga stabilitas ekonomi digital yang terus berkembang di Indonesia.
Namun, di sisi lain, kekuatan yang sama dapat disalahgunakan jika jatuh ke tangan yang salah. Potensi model AI untuk dieksploitasi oleh aktor jahat dalam menemukan kerentanan merupakan kekhawatiran yang nyata. Bagi Indonesia, yang sedang gencar mendorong transformasi digital dan pengembangan ekonomi berbasis teknologi, hal ini menuntut peningkatan kewaspadaan dan investasi yang lebih besar dalam kapabilitas pertahanan siber. Penting bagi Indonesia untuk terus memantau perkembangan teknologi AI semacam ini, menjalin kolaborasi internasional, dan mengembangkan regulasi yang adaptif untuk memastikan bahwa inovasi teknologi semata-mata dimanfaatkan untuk kemajuan dan keamanan, bukan sebaliknya.












