Presiden Obama menyerukan de-eskalasi potensi perlombaan senjata siber. Pernyataan ini muncul setelah pertemuannya dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, di KTT G20 di Hangzhou, Tiongkok.
Obama menekankan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan ofensif dan defensif siber yang lebih besar dibandingkan negara lain.
Menyikapi era baru kemampuan perang siber yang signifikan, presiden menyerukan pembentukan norma-norma untuk mencegah eskalasi global yang tidak terkendali.
“Kita sudah memiliki cukup masalah di dunia maya dengan aktor non-negara yang melakukan pencurian dan menggunakan internet untuk berbagai praktik ilegal, serta melindungi infrastruktur kritis kita dan memastikan sistem keuangan kita sehat,” ujar Obama. “Yang tidak boleh terjadi adalah situasi seperti ‘Wild West’ di mana negara-negara dengan kapasitas siber yang besar mulai terlibat dalam persaingan yang tidak sehat atau konflik melalui cara-cara ini, padahal kita telah dengan bijak menetapkan norma-norma terkait penggunaan senjata lain.”
Ketegangan dengan Rusia
Ketegangan hubungan AS dengan Rusia meningkat belakangan ini. Rusia dicurigai terlibat dalam serangkaian serangan siber terhadap Komite Nasional Demokrat, kampanye presiden Hillary Clinton, dan lembaga-lembaga pemerintah AS.
Beberapa serangan tersebut berujung pada kebocoran informasi ke Wikileaks, yang kemudian mempublikasikan data curian tersebut secara daring. Kampanye Clinton menduga Rusia berupaya merusak pemilihan presiden AS, kemungkinan untuk menguntungkan kandidat Partai Republik Donald Trump.
Bukti yang Menguat
Bukti baru yang mengaitkan Rusia dalam upaya merusak pemilihan AS telah muncul, tulis Pemimpin Minoritas Senat Harry Reid dalam suratnya kepada Direktur FBI James Comey.
Pejabat FBI sebelumnya telah mengonfirmasi penyelidikan mereka terhadap serangan siber terhadap beberapa organisasi partai dan pemerintah. Kekhawatiran tentang pengaruh entitas asing terhadap pemilihan presiden AS semakin meningkat dengan laporan terbaru mengenai peretasan sistem pemungutan suara di Illinois dan Arizona. Informasi pribadi ribuan pemilih Illinois pun terkompromi.
Seorang peretas Rusia yang dikenal dicurigai menggunakan malware untuk mengkompromikan kredensial pengguna di tingkat daerah guna mengakses sistem pendaftaran pemilih di seluruh negara bagian, demikian dikonfirmasi oleh juru bicara Kantor Sekretaris Negara Bagian Arizona.
Pihak Kedutaan Besar Rusia di Amerika Serikat belum memberikan tanggapan terhadap pertanyaan baru, namun sebelumnya mereka telah membantah tuduhan bahwa Kremlin memiliki kaitan dengan serangan siber terhadap DNC atau lembaga pemerintah AS.
Eskalasi perang siber memiliki dinamika yang sangat berbeda dari perlombaan senjata konvensional, karena dalam skenario siber, tidak ada cara untuk mengetahui sepenuhnya kemampuan musuh, demikian peringatan Martin Libicki, seorang ilmuwan manajemen di RAND.
“Sampai batas tertentu, negara-negara menyimpan aset terbaik mereka untuk saat-saat genting,” ujarnya. “Sebaliknya, tujuan utama dari pencegahan nuklir adalah untuk menakut-nakuti, dan orang tidak bisa ditakut-nakuti oleh apa yang tidak mereka ketahui.”
Terkait potensi pengaruh Rusia terhadap pemilihan AS, yang menjadi kekhawatiran yang berkembang, Libicki menambahkan bahwa ancamannya relatif terbatas, mengingat berbagai negara bagian memiliki metode pemungutan suara yang berbeda, dan pemungutan suara sepenuhnya elektronik justru merupakan pengecualian.
Relevansi Siber untuk Indonesia: Cermin Tantangan Global
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membuka berbagai peluang, namun juga menghadirkan tantangan baru, termasuk ancaman keamanan siber. Pernyataan Presiden Obama mengenai potensi perlombaan senjata siber dan pentingnya norma-norma internasional sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai negara dengan populasi digital yang terus bertambah dan infrastruktur digital yang semakin vital, Indonesia tidak kebal terhadap ancaman siber. Potensi serangan siber yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi, sosial, dan politik menuntut perhatian serius. Upaya untuk membangun kapasitas pertahanan siber yang kuat, serta berpartisipasi aktif dalam forum internasional untuk merumuskan norma dan kerangka kerja keamanan siber global, menjadi langkah krusial bagi Indonesia untuk menjaga kedaulatan digitalnya di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Source: technewsworld














