TiVo meluncurkan versi terbaru perekam video digital (DVR) Roamio OTA, yang dirancang khusus untuk pasar pemirsa yang beralih dari televisi kabel. Perangkat ini dilengkapi dengan kapasitas penyimpanan 1 TB dan tidak memerlukan biaya berlangganan bulanan.
Perangkat DVR ini mampu merekam hingga 150 jam program definisi tinggi (HD) dan secara bersamaan merekam hingga empat acara televisi. Selain dapat mengakses konten dari televisi jaringan OTA (over-the-air) seperti ABC, NBC, CBS, PBS, dan Univision, Roamio OTA juga terintegrasi dengan layanan streaming populer seperti Netflix, Hulu, Amazon Prime, dan YouTube.
Evolusi Roamio OTA
Roamio OTA yang baru ini merupakan pembaruan dari model Roamio OTA DVR orisinal yang pertama kali diluncurkan sebagai edisi terbatas pada tahun 2014. Model sebelumnya memiliki kapasitas 75 jam program HD dengan ruang penyimpanan 500 GB, dan ditawarkan dengan harga US$49,99. DVR orisinal ini dikenakan biaya langganan bulanan sebesar $14,99 dengan komitmen minimal satu tahun.
Fitur-fitur standar yang diwarisi dari model sebelumnya mencakup SkipMode, yang memungkinkan pemirsa melewati iklan pada tayangan rekaman; QuickMode, yang mempercepat pemutaran tayangan hingga 30% dengan tetap menjaga kualitas audio; serta teknologi OnePass. Perangkat terbaru ini akan tersedia dengan harga satu kali pembayaran sebesar $399,99.
Strategi Tanpa Biaya Berlangganan
Keputusan TiVo untuk menghilangkan biaya berlangganan bulanan dinilai sebagai respons terhadap keinginan konsumen yang beralih dari TV kabel untuk menghindari biaya yang tinggi. Michael Goodman, direktur strategi media digital di Strategy Analytics, menyatakan bahwa biaya bulanan sebesar $15 dapat menjadi hambatan bagi segmen pasar ini.
“TiVo selalu memiliki pijakan di kedua kubu,” ujarnya, merujuk pada model berlangganan berbayar dan OTA. “Ini jelas merupakan sebuah posisi, setidaknya untuk produk ini, bahwa biaya adalah isu yang signifikan.”
Meskipun tren pemutusan langganan kabel (cord-cutting) terus meningkat, Goodman mencatat bahwa survei Nielsen menunjukkan mayoritas pemirsa masih berlangganan berbagai bentuk televisi kabel. Studi tersebut mengungkapkan bahwa 26% responden berencana menonton program siaran atau video sesuai permintaan (VOD) melalui langganan, sementara 72% masih memilih koneksi TV tradisional. Di Amerika Utara, 35% responden membayar untuk layanan online.
TiVo sendiri melaporkan peningkatan pelanggan sebesar 27% sejak Januari 2015, dengan total 7 juta pelanggan di Amerika Utara dan Eropa.
Persaingan di Pasar Pemutus Kabel
Salah satu pesaing utama TiVo adalah Tablo, layanan DVR OTA yang menawarkan perangkat dengan empat tuner seharga $299 dan biaya langganan opsional $4,99 per bulan atau $149,99 seumur hidup.
Laura Slater, juru bicara Tablo, menyebut Roamio sebagai “DVR bergaya warisan” yang terhubung ke satu TV dan memerlukan perangkat keras tambahan untuk mendistribusikan konten ke perangkat lain. Ia berpendapat bahwa DVR berbasis jaringan seperti Tablo adalah masa depan teknologi semacam ini, karena pemirsa menginginkan fleksibilitas untuk menonton konten kapan saja dan di perangkat pilihan mereka.
Charles King, analis utama di Pund-IT, menekankan keuntungan merekam siaran TV dibandingkan streaming, terutama karena adanya batasan akses pada beberapa program populer dan jeda iklan yang panjang.
Mike Jude, manajer program di Stratecast/Frost & Sullivan, menambahkan bahwa DVR OTA seperti Roamio membantu mengatasi tantangan pengelolaan konten dari berbagai penyedia streaming dan OTA. Ia memperkirakan Roamio akan menarik perhatian konsumen yang beralih dari TV kabel karena kemampuannya mengelola konten “over-the-top” (OTT) dengan cara yang serupa seperti layanan video berlangganan konvensional.
Relevansi di Indonesia: Merangkul Era Fleksibilitas Konten
Pengenalan perangkat seperti TiVo Roamio OTA, yang menawarkan fleksibilitas dan pemotongan biaya langganan, mencerminkan pergeseran global dalam cara konsumen mengakses hiburan. Di Indonesia, di mana penetrasi internet dan layanan streaming terus meningkat pesat, konsep “cord-cutting” mungkin belum sepopuler di negara-negara Barat. Namun, tren ini mulai terlihat, terutama di kalangan generasi muda yang lebih melek teknologi dan mencari alternatif yang lebih terjangkau dan personal.
Peluncuran produk seperti Roamio OTA, yang menggabungkan akses ke siaran terestrial dengan platform streaming populer dan menghilangkan biaya berlangganan bulanan, berpotensi besar untuk diadopsi di Indonesia. Ini dapat menjadi solusi bagi konsumen yang ingin menikmati konten televisi tanpa terikat pada paket kabel yang mahal, sambil tetap memiliki kemampuan untuk merekam dan menonton tayangan sesuai jadwal mereka sendiri. Ketersediaan konten lokal di platform OTA dan streaming, dikombinasikan dengan kemampuan perekaman yang kuat, dapat menjadi daya tarik utama bagi pasar Indonesia yang dinamis dan terus berkembang.
Sumber: technewsworld














