Hightouch Manfaatkan AI untuk Personalisasi Konten Pemasaran Tanpa Tim Desain
Jakarta – Startup Hightouch memperkenalkan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan para profesional pemasaran menciptakan konten iklan yang dipersonalisasi untuk berbagai merek ternama, seperti Domino’s, Chime, PetSmart, dan Spotify, tanpa melibatkan tim desain internal atau agen periklanan. Inisiatif ini, yang diluncurkan pada akhir tahun 2024, menandai pergeseran signifikan dari praktik pemasaran tradisional yang sebelumnya sangat bergantung pada keahlian desainer dan profesional kreatif.
Sejak mengimplementasikan produk AI-nya 20 bulan lalu, Hightouch melaporkan peningkatan pendapatan berulang tahunan (ARR) sebesar $70 juta, sehingga total ARR startup tersebut mencapai $100 juta. “Sebelum GenAI, mustahil bagi seseorang tanpa bertahun-tahun keahlian desain untuk menciptakan aset setingkat konsumen,” ujar Kashish Gupta, co-CEO Hightouch. Perusahaan ini juga dipimpin oleh co-CEO Tejas Manohar, mantan manajer teknik di Segment.
Pendekatan Hightouch melampaui kemampuan model AI generik. Banyak merek awalnya mencoba menghasilkan kampanye iklan menggunakan model dasar (model AI luas yang mendukung alat seperti chatbot) namun menemukan bahwa gambar dan video yang dihasilkan tidak memenuhi standar “sesuai merek” karena ketidakmampuan model tersebut mengenali detail spesifik merek seperti warna, font, nada, atau aset visual. “Model dasar tidak mengetahui merek konsumen tertentu,” jelas Gupta. “LLM akan berhalusinasi produk yang tidak ada, dan Anda tidak bisa beriklan atau mengirim email tentang produk yang tidak ada.”
Untuk memastikan konsistensi merek, Hightouch terintegrasi langsung dengan alat kreatif pelanggan, termasuk platform desain seperti Figma, perpustakaan foto, dan sistem manajemen konten (CMS). Dengan menarik data dari sumber-sumber ini, platform AI Hightouch “mempelajari” identitas merek spesifik perusahaan. Agen AI kemudian menggunakan foto, desain, dan wawasan pelanggan tersebut untuk membantu pemasar membangun kampanye iklan yang dipersonalisasi secara mandiri, tanpa menunda proses dengan menunggu desainer atau pengembang.
Tujuan AI Hightouch adalah menghasilkan gambar dan video yang tampak profesional, menghindari kesan “palsu” atau generik yang sering dikaitkan dengan konten AI. “Misalnya, Domino’s tidak akan pernah menghasilkan gambar pizza,” kata Gupta. “Mereka akan selalu menggunakan gambar pizza yang sudah ada, dan menempatkannya dalam iklan di mana latar belakangnya mungkin dihasilkan, dan elemen lain di sekitarnya juga mungkin dihasilkan.”
Perusahaan yang kini mempekerjakan sekitar 380 orang ini dinilai $1,2 miliar pada Februari 2025 setelah menggalang dana Seri C sebesar $80 juta yang dipimpin oleh Sapphire Ventures.
Sumber: techcrunch
Transformasi Pemasaran Digital: Relevansi bagi Indonesia
Kemunculan teknologi seperti yang dikembangkan oleh Hightouch menawarkan potensi besar bagi lanskap pemasaran di Indonesia. Dengan semakin banyaknya pelaku bisnis di Indonesia yang beralih ke ranah digital, kebutuhan akan konten pemasaran yang efektif, efisien, dan sesuai dengan identitas merek menjadi semakin krusial. Kemampuan AI untuk menghasilkan konten berkualitas tinggi tanpa membebani sumber daya desain yang terbatas dapat menjadi solusi yang sangat berharga bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang seringkali memiliki anggaran terbatas namun ingin bersaing di pasar digital yang ramai.
Namun, adopsi teknologi ini juga perlu diimbangi dengan pemahaman mendalam mengenai etika penggunaan AI dan perlindungan data. Penting bagi perusahaan di Indonesia untuk memastikan bahwa penggunaan AI dalam pemasaran tetap transparan dan menghargai privasi konsumen. Selain itu, kolaborasi antara talenta lokal di bidang AI dan pemasaran dengan teknologi seperti ini dapat membuka peluang baru untuk inovasi yang lebih relevan dengan konteks budaya dan pasar Indonesia. Dengan demikian, Hightouch dan inovasi serupa dapat menjadi katalisator dalam meningkatkan daya saing pelaku bisnis Indonesia di era digital global.














