Facebook Memperkenalkan Konsep Interaksi Sosial Virtual di F8
San Francisco, AS – Facebook pada hari Rabu, melalui konferensi pengembang F8, mendemonstrasikan potensi interaksi sosial dalam dunia virtual. Dua karyawan, Chief Technology Officer Mike Schroepfer yang berada di San Francisco dan Product Manager Michael Booth di Menlo Park, California, yang berjarak sekitar 30 mil, berhasil berbagi ruang virtual yang sama.
Dalam ruang virtual tersebut, mereka menggunakan foto 360 derajat untuk mengunjungi London dan hanggar tempat kendaraan udara tak berawak Facebook disimpan. Keduanya juga berkolaborasi menggambar menggunakan pena virtual dan mengambil swafoto yang kemudian diunggah ke linimasa Facebook mereka di dunia nyata.
“Ini baru permulaan dari eksplorasi kami tentang bagaimana orang dapat terhubung dan berbagi menggunakan teknologi VR saat ini,” ujar Booth. Ia menambahkan, “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan tantangan yang harus dipecahkan, seperti bagaimana memodelkan diri kita dengan lebih baik di dalam VR, sehingga kita dapat meningkatkan kehadiran dari sekadar kepala dan tangan yang terlepas menjadi representasi yang lebih ekspresif dari seseorang.”
Demonstrasi yang Mengesankan
Greg Sterling, wakil presiden strategi dan wawasan untuk Local Search Association, menilai demonstrasi tersebut “mengesankan.” Ia menjelaskan, meskipun avatar, atau representasi grafis dari kedua narasumber, masih terkesan kasar, mereka mampu mengubah lingkungan, berinteraksi dengan objek virtual, dan saling merespons.
“Orang-orang mulai berbicara tentang kematian jarak dengan panggilan telepon seluler tanpa batas,” tambah Sterling. “Ini adalah kematian batas fisik yang memisahkan orang.”
Namun, sebelum sosialisasi nyata dapat terjadi di ruang virtual, komputer perlu menjadi lebih baik dalam membaca manusia. Brian Blau, Direktur Riset Gartner, menekankan, “Manusia sangat pandai mendeteksi isyarat halus yang dikeluarkan manusia lain. Komputer tidak.” Ia melanjutkan, “Kita harus mengajarkan komputer untuk memiliki kemampuan perseptual semacam itu.”
Pengalaman yang Lebih dari Sekadar Kurasi
Pengalaman di Facebook saat ini sebagian besar dikelola oleh algoritma. Hal ini berpotensi berubah ketika VR masuk. Cliff Raskind, seorang analis di Strategy Analytics, berpendapat, “Anda akan dapat melampaui pengalaman yang dikurasi.” Ia menambahkan, “Anda dapat menarik kesimpulan Anda sendiri alih-alih memiliki sesuatu yang disajikan kepada Anda.”
Raskind juga menyatakan, “Akan luar biasa jika Anda dapat berbagi pengalaman dan mengunjungi orang tanpa harus menempuh jarak geografis yang sangat jauh, dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Demonstrasi VR sosial di F8 ini memberikan wawasan berharga mengenai motif di balik pembelian Facebook terhadap produsen headset VR Oculus senilai US$2 miliar pada tahun 2014. Sterling meyakini, “Mereka membeli Oculus karena mereka menyadari potensi teknologi tersebut. Ada banyak aplikasi untuk itu, salah satunya adalah semacam versi realitas virtual dari Facebook, atau jaringan sosial yang didefinisikan secara luas berdasarkan teknologi realitas virtual.”
Sisi Gelap VR
Sebagaimana teknologi imersif lainnya, ada peluang untuk penyalahgunaan, dan VR sosial tidak terkecuali. Sterling mencatat, “Banyak teknologi dapat digunakan untuk tujuan baik atau dapat disalahgunakan.” Ia memperingatkan, “Jika skenario realitas virtual menjadi sangat meyakinkan, orang dapat membayangkan diri mereka benar-benar kecanduan pengalaman virtual ini. Mereka mungkin mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari realitas virtual, sama seperti orang yang kecanduan ponsel pintar atau internet.”
Selain itu, akan ada peluang untuk penyalahgunaan terhadap pengguna. Raskind menyatakan, “Setiap jenis pelecehan yang Anda lihat di Facebook hari ini dapat diperkuat di dunia virtual.”
Pemerintahan Virtual
Lebih lanjut, bahkan dunia virtual mungkin memerlukan pengelolaan, yang dapat menimbulkan lebih banyak masalah. Raskind menyoroti, “Para pengelola ini akan masuk ke ranah apa yang dilakukan pemerintah. Kemungkinan akan ada perdebatan tentang seberapa besar kendali yang harus diterapkan atas kebebasan virtual Anda.”
Mengenai kapan interaksi virtual akan menggantikan interaksi tatap muka, Blau berpendapat, “Jika itu pernah terjadi, itu masih sangat jauh.”
Sumber: technewsworld
Potensi Revolusi Sosial dan Tantangan Implementasi di Indonesia
Demonstrasi Facebook mengenai interaksi sosial virtual di F8 ini membuka cakrawala baru tentang bagaimana manusia akan terhubung di masa depan. Bagi Indonesia, yang memiliki populasi besar dan tingkat penetrasi internet yang terus meningkat, konsep ini memiliki potensi dampak yang signifikan. Kemampuan untuk melintasi jarak geografis secara virtual dapat menjadi alat yang ampuh untuk pendidikan, kolaborasi bisnis, dan bahkan pelestarian budaya, memungkinkan masyarakat di berbagai pulau untuk berinteraksi dan berbagi pengalaman tanpa hambatan fisik.
Namun, implementasi konsep ini di Indonesia juga akan dihadapkan pada berbagai tantangan. Ketersediaan perangkat keras VR yang terjangkau, infrastruktur internet yang memadai di seluruh nusantara, serta literasi digital masyarakat untuk memanfaatkan teknologi ini secara optimal akan menjadi faktor penentu. Selain itu, isu-isu etika, privasi, dan potensi penyalahgunaan yang disebutkan dalam artikel ini akan menjadi perhatian serius yang memerlukan regulasi dan edukasi yang matang. Dengan pendekatan yang bijaksana dan inklusif, teknologi VR sosial berpotensi memperkaya kehidupan sosial dan ekonomi Indonesia, namun kesiapan infrastruktur dan adaptasi masyarakat akan menjadi kunci keberhasilannya.














