Sebanyak 37% wanita memasuki bidang keamanan siber dari posisi non-TI atau militer, menurut survei ISC2. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa wanita lebih banyak memanfaatkan pendidikan, pengembangan profesional, pengalaman mandiri, dan program magang untuk meniti karier di bidang ini dibandingkan pria.
Perusahaan mulai melonggarkan persyaratan perekrutan untuk menarik talenta dari latar belakang non-siber. Hal ini sejalan dengan upaya global untuk memperluas kumpulan talenta keamanan siber tanpa mengorbankan standar.
Latar Belakang Non-TI Membuka Pintu Keamanan Siber
Para ahli berpendapat bahwa individu dengan latar belakang non-TI membawa perspektif yang beragam dan pendekatan pemecahan masalah yang unik. Keterampilan interpersonal, manajerial, komunikasi, berpikir kritis, dan manajemen proyek yang kuat sangat dibutuhkan dalam peran TI, termasuk keamanan siber. Pengalaman yang bervariasi ini sering kali menghasilkan solusi kreatif dan pemahaman yang lebih holistik.
Tantangan bagi wanita untuk mendapatkan pengalaman TI tradisional semakin meningkat, diperparah oleh penyusutan peluang kerja tingkat pemula. Hal ini mendorong pergeseran dalam angkatan kerja, baik dari segi gender maupun peluang, di mana TI bukan lagi satu-satunya jalur utama menuju keamanan siber.
Meskipun ada perbaikan dalam iklim bagi wanita di keamanan siber, tantangan signifikan tetap ada. Kesenjangan representasi, bias gender, kurangnya pengakuan, dan lingkungan kerja yang terkadang tidak ramah masih menghambat kemajuan dan retensi wanita. Kesenjangan gaji dan hambatan dalam kemajuan karier, termasuk promosi dan peran kepemimpinan, juga masih menjadi masalah.
Pendidikan sebagai Jalur Menuju Keamanan Siber
Selain pengalaman non-TI, pendidikan lanjutan juga menjadi jalur penting bagi wanita untuk memasuki keamanan siber. Sejumlah besar wanita memiliki gelar sarjana terkait keamanan siber atau bidang lain yang tidak terkait langsung, serta gelar pascasarjana.
Beberapa pakar berpendapat bahwa wanita sering kali harus membuktikan kemampuan mereka melalui pendidikan dan pengalaman yang lebih ekstensif dibandingkan pria untuk mendapatkan pengakuan yang setara. Hal ini dapat menyebabkan wanita menunda transisi karier mereka, membangun basis pengetahuan yang kuat sebelum melamar pekerjaan.
Nilai Sertifikasi Keamanan Siber
Sertifikasi dan pengembangan profesional juga ditekankan oleh wanita untuk mendukung karier mereka di bidang keamanan siber. Sertifikasi dapat menjadi cara yang efektif bagi para profesional untuk beralih ke bidang yang relatif baru ini.
Namun, terdapat perbedaan antara preferensi industri dan persyaratan perekrutan. Meskipun sebagian besar responden lebih memilih kandidat dengan sertifikasi teknis, banyak organisasi masih mensyaratkan gelar sarjana empat tahun. Ada pandangan bahwa organisasi sebaiknya mengidentifikasi kandidat dengan keterampilan lunak yang tepat dan kemudian membantu mereka memperoleh pengetahuan keamanan siber melalui sertifikasi.
Refleksi Dampak bagi Indonesia: Membuka Peluang di Era Digital
Temuan dari artikel ini memiliki relevansi yang signifikan bagi Indonesia. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi, kebutuhan akan profesional keamanan siber terus meningkat. Laporan ini menunjukkan bahwa memperluas cakupan perekrutan di luar jalur tradisional TI dan militer dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi kesenjangan talenta.
Bagi Indonesia, ini berarti membuka pintu bagi individu dari berbagai latar belakang, termasuk profesional dari sektor lain yang memiliki keterampilan analitis, pemecahan masalah, dan komunikasi yang kuat, untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan ruang digital. Upaya untuk mendorong partisipasi wanita dalam bidang ini, dengan memanfaatkan jalur pendidikan non-tradisional dan sertifikasi, dapat memperkaya ekosistem keamanan siber nasional dan menciptakan peluang ekonomi yang lebih inklusif. Penting bagi institusi pendidikan dan perusahaan di Indonesia untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih fleksibel dalam rekrutmen dan pengembangan talenta keamanan siber, guna membangun pertahanan digital yang lebih kokoh dan beragam.
Sumber: technewsworld















