Denmark memimpin dalam Kualitas Hidup Digital Global
Sebuah studi terbaru oleh penyedia VPN Surfshark menempatkan Denmark sebagai negara dengan kualitas hidup digital terbaik di dunia. Penelitian ini mengukur 110 negara berdasarkan lima pilar utama: keterjangkauan internet, kualitas internet, infrastruktur, keamanan, dan pemerintahan. Denmark meraih skor tertinggi sebesar 0,83 dari nilai maksimal 1, diikuti oleh Korea Selatan (0,76), Finlandia (0,76), Israel (0,74), Amerika Serikat (0,74), dan Singapura (0,72).
Studi ini menggunakan 14 indikator untuk menyempurnakan pengukuran, seperti tingkat penggunaan internet individu dan kesiapan jaringan dalam pilar infrastruktur. Charles King, analis utama di Pund-IT, memuji metodologi studi ini yang terus berkembang sejak diluncurkan pada tahun 2019.
Roslyn Layton, wakil presiden senior di Strand Consult, mencatat bahwa hasil ini sejalan dengan laporan dari International Telecommunications Union, di mana Denmark secara konsisten berada di peringkat teratas. Ia menjelaskan bahwa Denmark adalah salah satu pengadopsi awal internet, segera mendigitalisasi layanan pemerintahnya dan menciptakan alat interaktif bagi warga dan bisnis. Hal ini, menurutnya, memacu adopsi internet secara luas dan menghasilkan sistem pemerintah yang terintegrasi, mulus, dan aman selama dua dekade terakhir.
Meskipun demikian, dalam kategori e-government, Amerika Serikat menduduki peringkat pertama, sementara Denmark berada di posisi keenam. Joe Kane dari Information Technology and Innovation Foundation (ITIF) berpendapat bahwa AS masih memiliki ruang untuk perbaikan dalam layanan e-government, meskipun peringkat tersebut mungkin wajar jika dibandingkan dengan negara lain.
Pemerintah Denmark juga dinilai unggul dalam memfasilitasi pembangunan jaringan. Izin pembangunan jaringan disederhanakan, dan penyedia layanan didorong untuk bersaing dan berinvestasi, yang berkontribusi pada keterjangkauan dan kualitas internet. Hal ini berbeda dengan Amerika Serikat, di mana kurangnya persaingan di beberapa wilayah dapat menghambat peningkatan layanan.
Amerika Serikat menghadapi tantangan signifikan dalam pemerataan kualitas dan ketersediaan internet akibat pendekatan yang berfokus pada sektor swasta dan perbedaan geografis yang luas. “Kesenjangan digital” tetap menjadi isu, terutama di daerah pedesaan dan komunitas kecil. Selain itu, faktor demografi, seperti perbedaan keterampilan digital dan kurangnya minat untuk terhubung, serta biaya pembangunan infrastruktur di wilayah luas, turut memengaruhi peringkat AS.
Korea Selatan, yang menempati posisi kedua secara keseluruhan, unggul dalam kualitas internet serta pertumbuhan kecepatan broadband dan seluler. Popularitas game dan kebijakan pemerintah untuk menyediakan broadband berkecepatan tinggi menjadi faktor pendukung. Infrastruktur digital Korea Selatan yang relatif baru juga memberikan keunggulan dibandingkan dengan infrastruktur AS yang sebagian sudah berusia tua.
Jack E. Gold, analis di J.Gold Associates, mengingatkan bahwa kualitas hidup digital bersifat subjektif dan apa yang dibutuhkan oleh satu individu mungkin berbeda dengan individu lain. Ia juga berpendapat bahwa studi semacam ini mungkin lebih menarik bagi orang di luar negara yang diteliti, karena pengguna di setiap negara cenderung puas dengan apa yang mereka miliki, terlepas dari perbandingan dengan negara lain.
Relevansi Kualitas Hidup Digital bagi Indonesia: Sebuah Cerminan Potensi dan Tantangan
Studi mengenai kualitas hidup digital ini memberikan perspektif berharga bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan populasi besar dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup digital warganya. Namun, tantangan yang dihadapi Denmark dan Amerika Serikat, seperti pemerataan akses, keterjangkauan, dan kualitas infrastruktur, juga relevan bagi Indonesia. Upaya pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur digital, seperti yang dilakukan Korea Selatan, serta peningkatan literasi digital masyarakat, menjadi kunci untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi digital dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir kalangan. Memahami faktor-faktor yang berkontribusi pada peringkat tinggi Denmark dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk merumuskan kebijakan yang lebih efektif dalam mewujudkan ekosistem digital yang inklusif dan berkualitas.
Sumber: technewsworld















