Internet Pasca-Krisis Data: Perbaikan Infrastruktur Digital atau Tambalan Sementara?
Seiring dengan pertumbuhan pesat informasi di internet, semakin banyak pengguna yang menjadi korban penyalahgunaan privasi dan pencurian data. Para pakar IT dan keamanan siber sering menyuarakan harapan untuk membangun kembali infrastruktur internet agar perjalanan data menjadi lebih aman dan terjamin.
Upaya mitigasi terhadap masalah privasi dan pencurian data terus dilakukan. Namun, alih-alih menciptakan internet baru yang lebih baik, proyek-proyek yang ada saat ini lebih mirip dengan perbaikan jalan raya fisik: menambal lubang dan melapisi ulang jalur yang ada. Sebuah studi dari Consumer Reports’ Digital Lab mengungkapkan bahwa 96 persen responden di Amerika Serikat sepakat bahwa perlindungan privasi konsumen perlu ditingkatkan. Meski demikian, belum ada indikasi internet alternatif yang sepenuhnya baru akan muncul dalam waktu dekat. Fokus cenderung beralih pada solusi perangkat lunak yang mengedepankan privasi dan keamanan, bukan perangkat keras. Solusi ini mencakup alternatif mesin pencari, peramban (browser), email, pesan instan, aplikasi produktivitas, pembayaran, dan solusi AdTech.
Upaya Perbaikan dan Inovasi Privasi
The @ Company, melalui CEO-nya Barbara Tallent, memimpin upaya menciptakan internet yang lebih aman dan berpusat pada manusia, dengan memberikan kepemilikan dan kontrol data pribadi kepada pengguna. Pada Oktober lalu, perusahaan tersebut meluncurkan aplikasi yang dibangun di atas protokol privasi baru. Standar baru ini bertujuan mengubah cara penyedia layanan daring berinteraksi dengan data pribadi miliaran pengguna internet. Tujuannya adalah mengembalikan kendali atas informasi pribadi dari pihak lain kepada individu. Tallent menekankan bahwa setiap data pribadi yang ada di internet saat ini dikumpulkan, disimpan, diorganisasi, dan digunakan untuk tujuan pelacakan, penjualan, bahkan pembuatan profil pengguna.
“Ada tren yang jelas menuju privasi, namun yang lebih spesifik adalah keinginan masyarakat untuk dapat mempercayai bahwa data yang mereka berikan digunakan sesuai tujuan yang dimaksud, tidak dilacak, dan bahwa setelah memberikan data, mereka memiliki hak untuk dilupakan serta dapat berinteraksi secara anonim,” ujar Tallent.
Solusi Tambalan dan Alternatif Baru
Berbagai solusi alternatif untuk mengatasi masalah internet yang ada telah tersedia dan diperkirakan akan terus bermunculan. Contohnya adalah ponsel yang tidak terikat dengan Google (de-Googled phones), seperti yang ditawarkan oleh e.foundation dan OSOM Products, yang tidak akan memata-matai data pengguna untuk kepentingan mereka sendiri.
Di ranah aplikasi pesan instan, Signal dan Telegram telah memelopori enkripsi ujung-ke-ujung sejak 2020. Generasi aplikasi pesan berikutnya bahkan akan memungkinkan pengguna menghapus pesan dari perangkat penerima. Fitur berbagi file yang aman dan terenkripsi secara menyeluruh juga akan hadir, tanpa perlu disimpan di server awan. Berbagi lokasi secara privat dengan keluarga dan teman, serta kontrol akses data kontak oleh pengguna, juga menjadi bagian dari inovasi yang akan datang.
Perkembangan Media Sosial dan Kontrol Data
Tren media sosial privat, seperti Mastodon, mulai terlihat sejak 2020. Seiring dengan meningkatnya pembatasan di platform besar, pengguna beralih ke alternatif lain. Pada 2021, situs media sosial akan menawarkan kategorisasi pengguna yang lebih bernuansa daripada sekadar “pengikut” dan “teman,” memungkinkan “grup” yang dapat digunakan di berbagai aplikasi.
“Saat ini data Anda tersebar di seluruh internet. Untungnya, perusahaan baru bermunculan untuk membantu Anda mengambil kembali data tersebut,” tambah Tallent. Layanan seperti Mine yang dapat mengidentifikasi perusahaan yang menyimpan data pengguna dan cara menghapusnya, diperkirakan akan semakin berkembang, memaksa perusahaan untuk beralih ke model bisnis yang berbeda. Tallent juga menyoroti munculnya aplikasi baru yang memungkinkan polling privat dan anonim di antara teman.
Pendekatan Keamanan Data yang Teruji
Tallent menjelaskan bahwa ada tiga jenis solusi dasar yang telah lama digunakan untuk melindungi data di internet: pertama, enkripsi data saat transit menggunakan TLS atau VPN; kedua, enkripsi data di dalam aplikasi; dan ketiga, pembuatan model kontrol akses aplikasi yang ketat. Protokol terbuka seperti Signal Protocol telah memungkinkan enkripsi ujung-ke-ujung untuk aplikasi pesan instan, meskipun interoperabilitas antar aplikasi yang menggunakan protokol yang sama masih terbatas.
Privasi: Medan Perang yang Dinamis
Perlakuan terhadap privasi dalam aplikasi pesan dan lainnya dapat berubah sewaktu-waktu. Migrasi pengguna dari WhatsApp ke Signal baru-baru ini menunjukkan bahwa meskipun WhatsApp mengklaim enkripsi ujung-ke-ujung, kemampuan Facebook untuk mengetahui waktu penggunaan dan lawan bicara pengguna menjadi faktor hilangnya kepercayaan.
“Mengembalikan kunci data kepada pemiliknya dan memisahkan keterikatan antara data dan lapisan aplikasi adalah terobosan. Namun, yang paling menarik komunitas keamanan adalah penyediaan platform dan SDK bagi pengembang front-end untuk menciptakan pengalaman baru tanpa harus berurusan dengan infrastruktur dan kerumitan pertukaran kriptografis,” kata Tallent.
Pandangan Beragam Mengenai Solusi Internet
Stephen Light, pemilik Nolah, berpendapat bahwa internet tidak memerlukan penggantian, melainkan industri teknologi perlu memprioritaskan pengembangan kebijakan keamanan siber yang lebih baik untuk mengurangi risiko serangan. Ia mengakui bahwa keamanan internet saat ini memadai bagi pengguna awam, namun tidak bagi peretas berpengalaman.
Purandar Das, CEO Sotero, membandingkan perbaikan internet dengan mengganti ban mobil yang sedang berjalan, sebuah tugas yang ambisius. Baginya, yang lebih krusial adalah adopsi strategi keamanan dan privasi yang lebih bermakna oleh organisasi, sejajar dengan kapabilitas teknis dan pendapatan.
Daivat Dholakia, direktur operasi Force by Mojio, sepakat bahwa perubahan besar dalam penanganan keamanan internet sangat diperlukan, mengingat banyak orang tidak menyadari kerentanan data mereka. Ia menekankan tanggung jawab perusahaan teknologi besar dalam transparansi penggunaan dan penjualan data, serta peningkatan divisi keamanan siber mereka. Dholakia memprediksi peningkatan keamanan internet yang signifikan dalam sepuluh tahun ke depan, meskipun prosesnya akan rumit dan memakan waktu lama.
Kebutuhan dan Kelayakan Solusi
Daripada membangun internet baru dari nol, perusahaan yang berfokus pada privasi menerapkan teknologi alternatif yang terbukti. Pendekatan ini berlandaskan pada prinsip tanpa pengawasan dan pemberdayaan pengguna atas data mereka. Selain The @ Company, contoh lain termasuk peramban Mozilla dan Brave, mesin pencari Neeva dan DuckDuckGo, serta platform media sosial Linktree dan Mastodon.
“Kepatuhan privasi pada dasarnya adalah masalah yang mustahil dipecahkan di tingkat aplikasi/proses dan biasanya tidak diasosiasikan dengan pengalaman online yang baik,” ujar Tallent. Tantangan utamanya adalah membuktikan bahwa masalah ini dapat diselesaikan secara fundamental dengan protokol/platform baru, menawarkan pengalaman yang unggul dan berfokus pada privasi, serta memperkenalkan solusi ini kepada pasar melalui kemitraan dengan pengembang aplikasi.
Tallent menambahkan bahwa The @ Company menawarkan kemudahan integrasi kepatuhan privasi dan pengalaman online yang baru dan lebih baik bagi pengembang aplikasi. Konsumen pada umumnya lebih mengutamakan kenyamanan, informasi, inspirasi, dan hiburan daripada privasi. Perusahaan seperti The @ Company berupaya menyediakan pengalaman pengguna yang setara atau bahkan melebihi yang ditawarkan penyedia layanan utilitas saat ini, dengan menciptakan pengalaman “jembatan” yang memungkinkan pengguna mencoba alternatif. Jika pengalaman ini memenuhi ekspektasi, pengguna akan beralih secara bertahap.
Masa Depan Privasi Digital di Indonesia: Sebuah Refleksi Kritis
Konten artikel ini memberikan gambaran yang cukup komprehensif mengenai tantangan privasi data di era digital dan upaya-upaya yang sedang dilakukan untuk mengatasinya. Bagi Indonesia, yang memiliki tingkat penetrasi internet dan penggunaan media sosial yang sangat tinggi, isu ini memiliki relevansi yang sangat besar. Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai hak-hak privasi mereka, serta desakan terhadap pemerintah dan perusahaan teknologi untuk menerapkan regulasi dan praktik yang lebih kuat dalam perlindungan data, menjadi krusial. Keberhasilan inisiatif seperti yang digagas oleh The @ Company, atau pengembangan solusi serupa oleh entitas lokal, dapat menjadi katalisator penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman dan terpercaya bagi jutaan pengguna di Indonesia. Tantangan utamanya adalah bagaimana menerjemahkan inovasi global ini menjadi solusi yang dapat diakses dan diadopsi secara luas oleh masyarakat Indonesia, dengan mempertimbangkan konteks sosial, ekonomi, dan budaya yang unik.













