Apple Meluncurkan Vision Pro, Perangkat Mixed Reality yang Menjanjikan Era Baru “Spatial Computing”
CUPERTINO, CALIFORNIA – Apple secara resmi memperkenalkan headset mixed reality (MR) yang telah lama dinantikan, Apple Vision Pro, pada acara Worldwide Developers Conference (WWDC) 2023. Perangkat seharga $3.499 ini dijadwalkan rilis tahun depan dan digadang-gadang akan membuka era baru dalam komputasi yang disebut “spatial computing.”
Tim Bajarin, Presiden Creative Strategies, sebuah firma penasihat teknologi, menyebut produk ini sebagai langkah penting dalam sejarah komputasi. “Apple memberi kita Mac dengan antarmuka grafis, lalu iPhone dengan komputasi saku, dan iPad dengan komputasi tablet. Kini, mereka menghadirkan antarmuka baru melalui gerakan, pelacakan mata, dan pengenalan suara,” ujar Bajarin. Ia menambahkan bahwa teknologi Vision Pro jauh melampaui headset realitas virtual (VR) yang ada saat ini, bahkan disebut sebagai “komputer penuh dalam sebuah headset.”
Perangkat Keras Canggih di Balik Kacamata Ski
Secara visual, Vision Pro menyerupai kacamata ski dan dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih. Sensor-sensornya memungkinkan pengguna mengontrol tampilan virtual menggunakan mata, tangan, dan suara, didukung oleh kamera 3D.
Eric Abbruzzese, Direktur Riset di ABI Research, mengomentari bahwa Vision Pro kemungkinan akan menjadi perangkat keras terbaik di kelasnya, sesuai dengan harganya. “Pelacakan mata, silikon khusus, layar dengan kepadatan piksel tinggi, dan susunan sensor yang substansial adalah nilai tambah besar untuk sebuah headset VR. Belum pernah ada headset yang selengkap ini fitur-fiturnya, dan harganya mencerminkan hal tersebut,” jelas Abbruzzese. Ia juga mencatat penamaan “Pro” untuk produk generasi pertama ini menunjukkan niat Apple untuk merilis produk yang lebih “standar” di masa mendatang dengan harga dan performa yang lebih terjangkau.
Mark N. Vena, Analis Utama di SmartTech Research, menyatakan bahwa Vision Pro memenuhi ekspektasi sebagai “komputer spasial yang dikenakan di kepala.” Apple mendemonstrasikan berbagai kegunaan menarik, mulai dari hiburan, olahraga, peningkatan produktivitas, hingga perluasan desktop melalui tampilan virtual.
Antusiasme dari Disney
CEO Disney, Robert A. Iger, yang turut hadir dalam presentasi Apple, menyambut baik Vision Pro. “Kami selalu mencari cara baru untuk menghibur, menginformasikan, dan menginspirasi penggemar kami dengan menggabungkan kreativitas luar biasa dan teknologi terobosan untuk menciptakan pengalaman yang luar biasa. Kami percaya Apple Vision Pro adalah platform revolusioner yang dapat mewujudkan visi kami,” ungkap Iger. Ia menyoroti potensi Vision Pro untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal dan mendalam, membawa penggemar lebih dekat dengan karakter favorit mereka.
Perangkat ini juga diprediksi akan meningkatkan kesadaran publik terhadap teknologi augmented reality (AR). Kristen Hanich, seorang analis di Parks Associates, mencatat bahwa meski istilah AR belum familiar luas bagi konsumen, banyak yang sudah menggunakan aplikasi AR populer seperti Pokémon Go, Snapchat, dan Instagram tanpa menyadarinya. “Pengumuman Apple ini akan membantu meningkatkan kesadaran dan adopsi berkat kekuatan merek, ekosistem konten, hubungan pengembang, dan fokus Apple pada pengalaman premium,” ujarnya.
Menjembatani Dunia Nyata dan Virtual
Tuong Nguyen, seorang analis di Gartner, menjelaskan bahwa Vision Pro berbeda dari headset VR tradisional yang seringkali membawa pengguna ke dunia lain. “Dengan Vision Pro, karena kemampuannya melakukan pass-through, pengguna tetap terhubung dengan dunia fisik sambil menambahkan elemen digital. Anda bisa menggunakan headset ini dan tetap berada dalam momen tersebut,” jelasnya. Ben Arnold, analis di Circana, menambahkan bahwa kemampuan ini membedakan Vision Pro dari produk lain yang ada di pasar saat ini.
Ross Rubin, Analis Utama di Reticle Research, melihat pengumuman ini mencerminkan kondisi mixed reality saat ini, di mana pembuat perangkat banyak memanfaatkan konten dan aplikasi yang sudah ada. “Bagi Apple, dengan perpustakaan aplikasi yang sangat besar, sangat masuk akal untuk menempatkannya di perangkat ini dan menambahkan nilai lebih, baik melalui imersi atau menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan,” ujar Rubin.
Pengumuman Lain dari Apple
Selain Vision Pro, Apple juga mengumumkan beberapa produk dan pembaruan perangkat lunak lainnya. MacBook Air 15 inci baru dengan chip M2 akan tersedia minggu depan dengan harga mulai dari $1.299. Model MacBook Air 13 inci dengan chip M2 akan dijual seharga $1.099, sementara model M1 tetap tersedia dengan harga $999.
Apple juga memperbarui lini Mac Studio dengan chip M2 Ultra dan M2 Max, yang akan mulai dijual seharga $1.999. Mac Pro mendapatkan peningkatan ke chip M2 Ultra dengan harga $6.999. Selain itu, Apple memperbarui sistem operasi iOS, iPadOS, dan watchOS.
Abbruzzese menyebutkan bahwa sebagian besar pengumuman lain bersifat “nice to have” daripada produk yang sangat signifikan. Namun, ia menekankan bahwa peralihan semua produk Mac ke Apple Silicon merupakan sebuah pencapaian penting. “Vision Pro yang berjalan dengan M2 serta chipset XR khusus tidak mengejutkan, tetapi tetap menarik. Qualcomm telah mendominasi pasar chipset XR, dan kini mereka memiliki pesaing kuat untuk tahun 2024 dan seterusnya,” tutupnya.
Dampak Teknologi Vision Pro di Indonesia: Peluang dan Tantangan
Peluncuran Apple Vision Pro, meskipun dengan harga yang sangat premium, membuka jendela besar mengenai potensi teknologi mixed reality dan spatial computing di masa depan. Bagi Indonesia, kehadiran perangkat semacam ini, meskipun belum tentu terjangkau secara massal dalam waktu dekat, dapat mendorong inovasi dan adopsi teknologi serupa di berbagai sektor.
Di bidang pendidikan, misalnya, Vision Pro dapat menawarkan pengalaman belajar yang imersif dan interaktif, membantu siswa memahami konsep-konsep kompleks dengan lebih baik. Dalam industri kreatif, seniman dan desainer dapat menciptakan karya yang lebih dinamis dan terintegrasi dengan lingkungan fisik. Sektor pariwisata juga berpotensi memanfaatkan teknologi ini untuk menciptakan tur virtual yang lebih realistis dan menarik bagi calon pengunjung.
Namun, tantangan yang signifikan juga ada. Ketersediaan infrastruktur digital yang memadai, termasuk konektivitas internet berkecepatan tinggi yang merata di seluruh wilayah Indonesia, akan menjadi kunci. Selain itu, pengembangan konten lokal yang relevan dengan budaya dan kebutuhan masyarakat Indonesia akan sangat krusial untuk memastikan adopsi teknologi ini tidak hanya sebatas tren global, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata. Investasi dalam sumber daya manusia yang mampu mengembangkan dan mengoperasikan teknologi ini juga perlu menjadi prioritas. Secara keseluruhan, Vision Pro menjadi penanda awal dari sebuah era baru yang perlu diantisipasi dan dipersiapkan oleh Indonesia.
Sumber: technewsworld














