Terobosan Laboratorium Bukan Akhir, Melainkan Awal: Perjalanan Startup Deep Tech Menuju Skalabilitas Bisnis
JAKARTA – Mentransformasi penemuan ilmiah dari laboratorium menjadi bisnis yang dapat diskalakan merupakan tantangan signifikan bagi startup deep tech. Keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada terobosan teknologi itu sendiri, tetapi juga pada kemampuan pendiri untuk menavigasi proses hukum yang rumit dan membangun fondasi bisnis yang kokoh.
Capella Kerst, pendiri dan CEO geCKo Materials, perusahaan yang menjadi finalis runner-up TechCrunch Startup Battlefield 2024, membagikan pengalamannya dalam mewujudkan teknologi yang terinspirasi dari alam menjadi produk komersial. Kerst, yang sebelumnya merupakan mahasiswa doktoral di Stanford, mengembangkan perekat bio-inspiratif yang meniru struktur mikroskopis pada kaki cicak untuk menempel pada permukaan.
“Saya memberanikan diri untuk benar-benar berbicara dengan pembimbing saya, mengatakan bahwa kita perlu melakukan percakapan serius tentang saya mendirikan perusahaan ini,” ujar Kerst. Percakapan tersebut menjadi titik awal dari proses panjang membangun geCKo Materials.
Peta Jalan Pendiri Startup Deep Tech dari Lingkungan Akademis:
- Jangkau Kontributor Sebelumnya: Penting untuk terhubung dengan semua pihak yang karyanya berkontribusi pada terobosan utama. Kerst menawarkan opsi kepada para kontributor untuk bergabung dengan perusahaan, menjadi penasihat, atau menerima kompensasi.
- Penuhi Syarat Proses Perizinan: Memulai dialog dini dengan kantor lisensi teknologi universitas sangat krusial. Kerst mengetahui bahwa ia perlu menyelesaikan gelar doktoralnya untuk dapat melakukan spin-off perusahaan. Komunikasi awal ini juga membantunya mempersiapkan diri menghadapi proses selanjutnya.
- Bentuk Perusahaan dan Libatkan Pengacara: Dalam kasus ini, Stanford menyediakan daftar pengacara yang harus digunakan Kerst. “Saya menghabiskan waktu mewawancarai pengacara, mencari tahu tentang studi kasus, apa yang didapat orang lain, apa yang berhasil, apa yang ditolak. Jadi saya belajar banyak, memilih pengacara saya, lalu kami berurusan dengan Stanford,” jelas Kerst. “Saya ingin kesepakatan yang baik, karena saya ingin ini menjadi perusahaan besar, dan saya pikir itu akan menguntungkan semua orang.”
- Transisi Penuh ke Peran Pendiri: Setelah perjanjian lisensi selesai, saatnya beralih dari peran mahasiswa doktoral menjadi CEO.
Lima tahun kemudian, geCKo Materials terus berkembang dan mengembangkan aplikasi baru untuk teknologi perekatnya. Teknologi ini sedang diuji dalam berbagai bidang, mulai dari robotika, manufaktur, otomotif, hingga antariksa. Bahan perekat perusahaan ini bahkan telah digunakan di Stasiun Luar Angkasa Internasional, dengan visi jangka panjang untuk menggantikan metode penempelan tradisional seperti Velcro atau sistem penghisap.
Relevansi Lokal: Membuka Potensi Inovasi Indonesia
Kisah geCKo Materials memberikan pelajaran berharga bagi ekosistem startup di Indonesia. Dalam konteks Indonesia, di mana banyak riset dan pengembangan potensial lahir dari institusi akademis, pemahaman mendalam mengenai proses spin-off dan komersialisasi teknologi sangatlah penting.
Kemampuan untuk menerjemahkan terobosan ilmiah menjadi produk yang layak secara komersial memerlukan lebih dari sekadar ide brilian. Diperlukan strategi yang matang dalam hal legalitas, perizinan, pendanaan, dan pembentukan tim yang solid. Dengan meningkatnya fokus pada ekonomi digital dan inovasi, pemahaman dan penerapan langkah-langkah yang diuraikan oleh Capella Kerst dapat menjadi katalisator bagi lebih banyak startup deep tech Indonesia untuk berkembang dan memberikan dampak signifikan, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di kancah global.
Sumber: techcrunch











