AI dan Masa Depan Bisnis: Perspektif dari Beena Ammanath
JAKARTA – Kecerdasan Buatan (AI) diprediksi akan menjadi teknologi yang sangat terintegrasi dalam operasional bisnis di masa depan, bahkan mungkin menjadi syarat mutlak untuk berbisnis. Transformasi ini akan mengubah model bisnis fundamental dan memengaruhi lanskap pekerjaan.
Beena Ammanath, Wakil Presiden Data dan Analitik di GE Digital, menjelaskan dalam wawancara eksklusif bahwa AI bukanlah industri tersendiri, melainkan teknologi transformatif yang akan merambah berbagai sektor. “Kita baru berada di puncak gunung es dengan AI saat ini,” ujarnya.
Dampak AI pada Bisnis dan Pekerjaan
Ammanath, yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang data analitik di berbagai industri seperti e-commerce, keuangan, dan ritel, melihat AI sebagai kekuatan yang akan mengubah cara bisnis beroperasi. Contohnya, mobil tanpa pengemudi dari Tesla yang masih dalam tahap awal AI, namun diprediksi akan segera menjadi kenyataan. Hal serupa juga diprediksi akan terjadi pada layanan transportasi seperti Uber, yang mungkin tidak lagi memerlukan pengemudi di masa depan.
Transformasi ini tidak hanya terbatas pada transportasi. Ammanath mencontohkan monorel otomatis tanpa pengemudi di Dubai yang mampu mengangkut ribuan penumpang per jam. Industri lokomotif, baik untuk penumpang maupun logistik barang jarak jauh, juga diprediksi akan mengalami revolusi.
Mengenai dampak pada pekerjaan, Ammanath berpandangan bahwa AI akan lebih banyak mengubah peran pekerjaan daripada menyebabkan pengurangan jumlah pekerjaan secara massal. “Pekerjaan yang paling berisiko adalah yang bersifat rutin dan memiliki tugas yang terbatas,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa meskipun peran pengemudi mungkin berkurang, akan ada peningkatan permintaan untuk programmer dan personel pendukung.
Kunci Sukses dalam Karier Sains Data
Selain keterampilan teknis, Ammanath menekankan pentingnya kreativitas, keingintahuan, dan kemampuan bercerita (storytelling) untuk sukses dalam karier sains data. Keingintahuan akan membantu menemukan korelasi tersembunyi dalam data, sementara kreativitas dan kemampuan bercerita dibutuhkan untuk mengaitkan temuan tersebut dengan konteks bisnis, yang pada akhirnya akan mendorong penghematan produktivitas dan pengembangan produk baru.
“Sangat mudah untuk mempelajari keterampilan teknis, tetapi ada seni dalam menceritakan kisah di balik korelasi dalam konteks bisnis, yang tidak diajarkan secara formal namun krusial untuk mendorong adopsi sains data,” ungkapnya.
Peran Keberagaman dalam Analitik Data
Menanggapi pertanyaan mengenai perspektif yang dibawa oleh perempuan dalam analitik data, Ammanath menyatakan bahwa setiap individu membawa perspektif yang berbeda, terlepas dari jenis kelaminnya. “Semakin beragam kelompok yang duduk di meja diskusi, semakin beragam pula perspektif dan pandangan, yang sangat membantu dalam membangun solusi dan produk yang menjangkau kelompok yang lebih luas,” tegasnya. Ia menekankan bahwa organisasi dan tim harus mencerminkan keragaman dunia nyata agar produk yang dihasilkan lebih relevan.
Nasihat untuk Perempuan di Bidang STEM
Bagi perempuan muda yang tertarik pada bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), Ammanath memberikan nasihat penting. “Jangan terlibat dalam bidang STEM hanya karena seseorang menyuruh Anda melakukannya,” katanya. Jika ada minat dan gairah terhadap STEM, jangan biarkan bias eksternal menghalangi.
Ia mengakui bahwa sistem yang ada saat ini belum sepenuhnya mendukung perempuan untuk menempuh pendidikan dan berkembang dalam karier STEM. “Ini adalah perjuangan yang berat, dan banyak yang menyerah sebelum mencapai potensi penuh mereka,” ujar Ammanath. Ia menyarankan untuk membangun kelompok dukungan yang dapat diandalkan untuk menghadapi tantangan dan menjadi lebih kuat.
Retensi Perempuan di Bidang STEM: Tantangan dan Solusi
Ammanath menyoroti pentingnya retensi perempuan di bidang STEM sebagai bagian krusial dari kesetaraan gender. Ia membagi kesetaraan gender menjadi dua bagian: meningkatkan jumlah perempuan yang bergabung dengan bidang teknologi dan mempertahankan serta mengembangkan perempuan yang sudah ada di dalamnya.
“Saat ini banyak organisasi fokus pada inisiatif untuk menarik lebih banyak perempuan ke bidang teknologi. Namun, ada kebutuhan besar untuk mempertahankan dan mengembangkan perempuan yang sudah ada di bidang STEM,” jelasnya. Ia mencatat bahwa perempuan masih kurang terwakili di setiap tingkatan dalam jalur karier perusahaan, dengan promosi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu meninjau kembali budaya mereka dan menyediakan mekanisme untuk mempertahankan serta mengembangkan tim kepemimpinan yang beragam. Ammanath juga menyarankan perusahaan untuk mempertimbangkan program magang bagi perempuan yang kembali bekerja setelah jeda karier, serta meningkatkan kesadaran dan menghilangkan bias tidak sadar dalam proses rekrutmen dan pengembangan karier.
Peran Mentoring dan Coaching
Mentoring dan coaching, menurut Ammanath, sangat penting di setiap tahap karier, tidak hanya bagi perempuan muda. Ia sendiri telah mendapatkan manfaat besar dari para mentor yang memberikan pandangan berbeda, membantu mengatasi kesulitan, dan yang terpenting, selalu percaya padanya. Ia berkomitmen untuk memberikan kembali dukungan kepada mereka yang membutuhkan bantuan atau bimbingan.
Relevansi untuk Indonesia: Membangun Ekosistem STEM yang Inklusif
Pandangan Beena Ammanath mengenai AI dan pentingnya keberagaman, khususnya dalam bidang STEM, memiliki relevansi yang mendalam bagi Indonesia. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital di Tanah Air, pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip yang disampaikan Ammanath dapat menjadi pondasi penting dalam membangun masa depan yang lebih inklusif dan inovatif.
Pertama, potensi AI untuk mentransformasi berbagai sektor industri di Indonesia sangatlah besar. Dari efisiensi operasional hingga penciptaan model bisnis baru, AI dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi. Namun, kesuksesan adopsi AI akan sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia yang terampil.
Kedua, isu keberagaman, terutama partisipasi perempuan dalam bidang STEM, bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang memaksimalkan potensi intelektual bangsa. Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta perempuan yang berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan sains untuk menciptakan solusi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat yang beragam.
Ketiga, tantangan yang dihadapi perempuan dalam meniti karier STEM, seperti yang diuraikan Ammanath, kemungkinan besar juga dirasakan di Indonesia. Diperlukan upaya sistematis untuk memperbaiki lingkungan pendidikan dan kerja agar lebih kondusif bagi perempuan, mulai dari peningkatan akses, dukungan budaya, hingga mekanisme retensi yang kuat.
Keempat, peran mentoring dan coaching yang ditekankan Ammanath menjadi krusial. Membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan profesional, baik melalui program formal maupun informal, akan memperkuat daya saing talenta STEM Indonesia secara keseluruhan.
Dengan memahami dan mengimplementasikan wawasan ini, Indonesia dapat melangkah lebih maju dalam memanfaatkan gelombang transformasi digital, memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia yang inklusif dan berkualitas.
Sumber: technewsworld















