Harapan Baru Bagi Tunanetra: Alat Pemulih Penglihatan Besutan Eks Bos Neuralink Kantongi Izin Eropa
Jakarta – Kabar gembira datang dari dunia medis dan teknologi saraf. science Corporation, sebuah startup teknologi antarmuka otak-komputer (BCI) yang didirikan oleh mantan petinggi Neuralink, baru saja mendapatkan lampu hijau dari regulator medis Eropa. Perusahaan ini resmi mengantongi izin untuk memasarkan PRIMA, sebuah perangkat implan canggih yang dirancang khusus untuk mengembalikan kemampuan melihat pada penderita kebutaan akibat degenerasi makula terkait usia (AMD).
Bagaimana Chip PRIMA Bekerja Menembus Kebutaan?
Penyakit degenerasi makula merupakan salah satu penyebab utama hilangnya kemampuan penglihatan pada jutaan lansia di seluruh dunia. Penyakit ini perlahan merusak sel-sel sensitif cahaya di bagian belakang mata, sehingga penderitanya kesulitan membaca, mengenali wajah orang terdekat, hingga beraktivitas secara mandiri.
Hadir sebagai solusi revolusioner, PRIMA menawarkan harapan baru lewat prosedur medis yang tergolong singkat dan efisien:
- Prosedur Rawat Jalan yang Cepat: Pasien hanya perlu menjalani operasi kecil selama satu jam untuk menanamkan chip nirkabel berukuran mikro di bagian belakang retina mereka.
- Kacamata Pendukung Khusus: Pasien kemudian mengenakan kacamata khusus yang dilengkapi dengan kamera internal. Kamera ini berfungsi menangkap visual dunia luar dan mentransmisikannya langsung ke chip yang telah ditanam.
- Visualisasi Nyata: Sinyal yang dikirimkan kacamata akan merangsang saraf mata, memungkinkan otak memproses kembali gambar fungsional dari dunia sekitar.
Max Hodak, pendiri sekaligus CEO Science Corp, menceritakan betapa emosionalnya momen ketika para pasien uji coba mulai bisa melihat kembali dan beraktivitas normal.
“Salah satu pasien kami di Prancis baru saja menyelesaikan novel setebal 300 halaman dan mengirimkan buku itu kepada kami. Di dinding kantor, kami juga memajang sketsa Gedung Opera Sydney yang digambar langsung oleh pasien lainnya. Bahkan, ada video pasien yang kini asyik bermain teka-teki silang dan Sudoku,” ungkap Hodak.
Dari Neuralink Menuju Bisnis Medis Berkelanjutan
Nama Max Hodak sendiri sudah sangat familier di industri BCI. Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus mantan presiden Neuralink, startup otak milik miliarder Elon Musk. Setelah memutuskan hengkang pada tahun 2021, Hodak mendirikan Science Corp dengan ambisi besar: menciptakan teknologi BCI generasi baru yang menggabungkan chip silikon dengan sel hidup (teknologi bio-hibrida).
Namun, Hodak sadar bahwa riset jangka panjang membutuhkan fondasi bisnis yang kokoh agar tidak kehabisan napas di tengah jalan.
Menghindari “Musim Dingin” Industri BCI
Menurut Hodak, industri teknologi saraf saat ini sangat membutuhkan perusahaan yang mampu menghasilkan pendapatan riil, bukan sekadar janji riset. Hal inilah yang mendorong Science Corp untuk mengakuisisi Pixium, perusahaan asal Prancis yang mengembangkan teknologi PRIMA pada tahun 2024.
Langkah strategis tersebut terbukti ampuh mempercepat proses regulasi dan komersialisasi produk, sekaligus meletakkan dasar bagi bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Harga Fantastis dan Rencana Ekspansi Pasar
Meski menawarkan keajaiban medis, teknologi canggih ini tentu tidak murah. Satu unit perangkat PRIMA diperkirakan akan dibanderol dengan harga ratusan ribu dolar AS atau setara miliaran rupiah. Saat ini, Science Corp tengah intens berdiskusi dengan otoritas kesehatan di Eropa untuk merumuskan sistem jaminan kesehatan atau subsidi (reimbursement) agar teknologi ini bisa dijangkau pasien yang membutuhkan.
- Jerman Jadi Target Pertama: Jerman diproyeksikan menjadi negara pertama yang menggelar prosedur implan komersial ini pada September mendatang, mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu lokasi uji klinis PRIMA tersukses.
- Langkah Cepat di Amerika Serikat: Di sisi lain, PRIMA juga telah mendapatkan status khusus dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Status ini membuka jalur peninjauan cepat guna memperluas penggunaan alat bagi penderita jenis kebutaan langka lainnya.
Menatap Masa Depan Teknologi Bio-Hibrida
Science Corp tidak berniat berhenti sampai di sini. Di masa depan, mereka berencana meningkatkan ketajaman visual chip PRIMA serta merancang kacamata yang lebih ringkas layaknya kacamata pintar (AR) biasa, tanpa memerlukan baterai eksternal yang besar seperti sekarang.
Selain fokus pada penglihatan, Science Corp juga tengah bermitra dengan Dr. Murat Günel, Kepala Departemen Bedah Saraf Yale School of Medicine, untuk mengembangkan prosedur uji coba manusia pada sensor otak implan bio-hibrida langsung.
Bagi Hodak, menyukseskan PRIMA di pasar global adalah prioritas mutlak saat ini. Keberhasilan komersial alat pemulih penglihatan ini merupakan mesin uang utama yang akan mendanai dan mewujudkan mimpi-mimpi besar teknologi medis masa depan mereka.







