Sebuah drone dilaporkan menabrak Seattle Great Wheel, sebuah bianglala setinggi 175 kaki di dekat tepi laut Seattle, pada minggu lalu. Insiden ini memicu investigasi kepolisian, namun tidak ada laporan kerusakan atau cedera yang terjadi.
Rob Enderle, seorang analis utama di Enderle Group, menyatakan keterkejutannya bahwa insiden semacam ini tidak lebih sering terjadi. Drone telah menimbulkan masalah di langit Amerika, menyebabkan kerusakan, cedera, serta mengganggu upaya pemadam kebakaran dan penerbangan komersial.
Menanggapi hal ini, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) pada bulan Februari mengeluarkan pemberitahuan usulan peraturan mengenai operasi dan sertifikasi drone. Sebuah gugus tugas juga dibentuk untuk melaporkan rekomendasi pendaftaran sistem pesawat nirawak (UAS). Wayne Plucker, direktur riset di Frost & Sullivan, mencatat bahwa FAA dianggap terlambat, mengingat integrasi penerbangan drone ke dalam sistem ruang udara nasional AS dijadwalkan pada 30 September. Beberapa pemerintah negara bagian juga telah mulai mengeluarkan peraturan mereka sendiri.
Peraturan yang Dibutuhkan
Rekomendasi peraturan yang diusulkan akan berlaku untuk pesawat nirawak komersial. Tom McMahon, juru bicara Asosiasi Sistem Kendaraan Nirawak Internasional (AUVSI), menjelaskan bahwa drone konsumen belum diatur secara spesifik oleh FAA atau lembaga federal lainnya. Namun, FAA memiliki wewenang untuk menindak operator drone atas tuduhan membahayakan secara sembrono, dan peraturan daerah serta negara bagian juga berlaku. FAA dilaporkan telah mengajukan tuntutan terhadap 20 operator drone, dengan lima di antaranya menyelesaikan kasus mereka dengan denda.
Namun, Enderle menyoroti bahwa departemen kepolisian yang kekurangan dana dan staf tidak diperlengkapi untuk melacak dan mengendalikan drone. Ia berpendapat bahwa masalah ini kemungkinan akan terus meningkat hingga ada solusi yang memadai atau ada kasus serius yang diadili.
Komunitas penerbangan model telah bekerja sama dengan FAA selama bertahun-tahun dan menetapkan pedoman penggunaan pesawat nirawak yang aman. McMahon menyatakan bahwa para pembuat pesawat model cukup patuh terhadap pedoman ini, sehingga belum ada peraturan khusus yang diberlakukan. Situasi berubah seiring dengan semakin terjangkaunya dan canggihnya drone siap pakai, yang memungkinkan siapa saja untuk membelinya tanpa harus merakitnya.
Permasalahan UAS
Drone telah menghambat pesawat pemadam kebakaran dalam menangani setidaknya 13 kebakaran hutan tahun ini. Pilot komersial juga melaporkan melihat drone saat mendekati pendaratan di berbagai bandara AS. Pada akhir bulan lalu, sebuah drone menabrak kabel listrik di Los Angeles, menyebabkan pemadaman listrik bagi hampir 700 pengguna. Pada bulan September, sebuah drone jatuh menimpa kepala seorang bayi perempuan berusia 11 bulan di Pasadena, California, menyebabkan luka ringan.
Pada bulan Oktober, Presiden Asosiasi Pilot Maskapai, Tim Canoll, memberikan kesaksian di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat mengenai perlunya mengelola operasi UAS untuk melindungi keselamatan sistem ruang udara nasional AS.
Proposal FAA
Aturan yang diusulkan oleh FAA akan berlaku untuk pesawat nirawak dengan berat kurang dari 55 pon yang digunakan untuk tujuan komersial. Rekomendasi tersebut mencakup:
- Pesawat harus selalu berada dalam jarak pandang operator.
- Pesawat tidak boleh beroperasi di atas pihak ketiga yang tidak terlibat langsung dalam operasinya.
- Operasi akan dibatasi hanya pada penerbangan siang hari.
- Pesawat harus memberikan jalan kepada pesawat lain, baik berawak maupun nirawak.
- Operator harus lulus tes pengetahuan aeronautika awal di pusat pengujian yang disetujui FAA dan mengulanginya setiap 24 bulan, menjalani pemeriksaan oleh Badan Keamanan Transportasi AS, memperoleh sertifikat operator pesawat nirawak dengan rating UAS kecil, dan berusia minimal 17 tahun.
Penegakan Hukum
Enderle berpendapat bahwa regulasi penerbangan UAS lebih kepada upaya meyakinkan masyarakat untuk tidak mengoperasikannya secara berbahaya daripada menangkap semua pelanggar. Ia menekankan perlunya contoh yang kuat untuk menjaga kepatuhan. Plucker menyarankan agar FAA membuat contoh yang tegas bagi siapa pun yang berhasil ditangkap, namun teknologi untuk melacak mereka masih kurang memadai.
Relevansi untuk Indonesia: Menjaga Langit Nusantara yang Terbuka
Insiden seperti yang terjadi di Seattle dan kekhawatiran yang diungkapkan oleh para ahli di AS memiliki relevansi yang signifikan bagi Indonesia. Dengan meningkatnya adopsi drone, baik untuk keperluan hobi maupun komersial, potensi risiko yang ditimbulkannya terhadap keselamatan penerbangan, keamanan publik, dan privasi juga meningkat.
Indonesia, dengan ruang udara yang luas dan aktivitas penerbangan yang padat, perlu secara proaktif mengembangkan kerangka regulasi yang jelas dan komprehensif untuk drone. Hal ini tidak hanya mencakup penetapan aturan operasional yang ketat, tetapi juga mekanisme penegakan hukum yang efektif, serta upaya edukasi publik yang berkelanjutan. Membangun kesadaran akan tanggung jawab dan potensi konsekuensi dari penggunaan drone yang tidak tepat dapat membantu mencegah insiden serupa dan memastikan bahwa langit Nusantara tetap aman bagi semua.
Sumber: technewsworld















