Airwallex Perluas Jangkauan ke Pembayaran Tatap Muka, Tantang Dominasi Stripe dan Square
JAKARTA – Perusahaan teknologi finansial asal Australia, Airwallex, telah mengumumkan ekspansi strategisnya ke pasar pembayaran tatap muka. Langkah ini menandai persaingan yang semakin mendalam dengan pemain besar seperti Stripe, serta menantang Square dan Adyen di arena baru dalam industri teknologi finansial.
Produk baru yang diluncurkan Airwallex diklaim memiliki keunggulan unik: memungkinkan bisnis menerima pembayaran tatap muka di berbagai negara melalui satu platform terintegrasi, tanpa perlu mendaftar ke vendor lokal di setiap pasar. CEO dan salah satu pendiri Airwallex, Jack Zhang, menjelaskan bahwa ekspansi bisnis ke pasar baru biasanya mengharuskan perusahaan untuk mengakuisisi pengolah pembayaran lokal, menavigasi kepatuhan yang terfragmentasi, dan mengelola hubungan dengan berbagai vendor.
Zhang mengungkapkan bahwa pada tahun 2019, Stripe pernah menawarkan akuisisi terhadap Airwallex senilai $1,2 miliar, saat itu pendapatan Airwallex baru mencapai $2 juta. Namun, Zhang memutuskan untuk tetap membangun perusahaannya. Keputusan ini didasari oleh motivasinya untuk mengatasi gesekan dan biaya tinggi dalam transaksi internasional. Sejak didirikan pada tahun 2015, Airwallex telah berfokus membangun infrastruktur pembayaran globalnya sendiri.
Saat ini, Airwallex dihargai $8 miliar oleh para investornya dan mengklaim menghasilkan pendapatan tahunan sekitar $1,3 miliar, dengan pertumbuhan sekitar 85% setiap tahun. Perusahaan ini melayani lebih dari 46.000 bisnis di Amerika Serikat dan memproses volume transaksi tahunan sebesar $100 miliar.
Airwallex memiliki hampir 90 lisensi regulasi di sekitar 50 pasar, koneksi langsung ke jaringan pembayaran lokal di lebih dari 120 negara, dan kemampuan untuk menyelesaikan transaksi dalam lebih dari 90 mata uang. Zhang menekankan bahwa infrastruktur inilah yang dinilai kurang dimiliki oleh Stripe dan Square, terutama lisensi perbankan lokal yang memungkinkan dana ditahan, dikonversi, dan digunakan di dalam pasar tertentu, bukan langsung direpatriasi.
“Stripe dan Square dapat memproses pembayaran di Jepang,” ujar Zhang, “tetapi ketika pembayaran diproses, Anda harus segera membayarkannya ke rekening bank pedagang. Anda tidak bisa menahan dana.” Lisensi Airwallex di Jepang, yang diperoleh setelah tujuh tahun proses, memungkinkan hal tersebut.
Produk Point-of-Sale (POS) terbaru Airwallex memperluas infrastruktur ini ke ranah fisik. Platform ini kini mengintegrasikan pembayaran di dalam toko dan online, serta menawarkan pelaporan terpadu dan integrasi langsung ke sistem back-office. Bagi bisnis yang beroperasi lintas negara, toko-toko di berbagai negara dapat beroperasi menggunakan sistem pembayaran yang sama dan melakukan rekonsiliasi di satu tempat, tanpa kerumitan hubungan vendor lokal.
Pesaing utama Airwallex di segmen infrastruktur global adalah Adyen, perusahaan pembayaran asal Belanda. Di pasar yang lebih tradisional, Fiserv serta gabungan Global Payments dan Worldpay, mendominasi pangsa pasar di antara peritel fisik, meskipun dengan arsitektur yang lebih tua.
Pertanyaan besar yang masih terbuka adalah apakah bisnis dengan hubungan yang sudah terjalin dengan Stripe atau Square akan tergoda untuk beralih dengan argumen infrastruktur global yang ditawarkan Airwallex. Airwallex bertaruh bahwa perusahaan multinasional yang lelah mengelola vendor pembayaran yang berbeda di setiap negara akan lebih memilih produknya.
“Belum ada persaingan nyata bagi Stripe dalam 15 tahun terakhir, yang cukup mengejutkan mengingat betapa besarnya pasar ini,” kata Zhang.
Relevansi Global untuk Ekosistem Bisnis Digital Indonesia
Langkah Airwallex memasuki pasar pembayaran tatap muka dengan menawarkan solusi terintegrasi lintas negara memiliki implikasi signifikan bagi Indonesia. Sebagai negara dengan potensi ekonomi digital yang besar dan pertumbuhan bisnis UMKM yang pesat, kemudahan dalam bertransaksi lintas batas sangatlah krusial. Platform seperti yang ditawarkan Airwallex dapat menjadi katalisator bagi pelaku bisnis Indonesia untuk berekspansi ke pasar global tanpa terbebani kompleksitas regulasi dan operasional di setiap negara tujuan. Hal ini berpotensi membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produk-produk lokal dan memperkuat daya saing pelaku usaha nasional di kancah internasional.
Sumber: techcrunch















