Masa Depan Pengiriman Barang Berada di Tangan Kendaraan Otonom
Jakarta, Indonesia – Meskipun perhatian publik lebih tertuju pada mobil penumpang otonom yang dikembangkan Google, potensi terbesar kendaraan tanpa pengemudi di masa mendatang justru terletak pada pengiriman barang jarak dekat.
Starship Technologies, sebagai salah satu pionir, telah meluncurkan dua proyek percontohan pada tahun 2016 di Inggris dan Amerika Serikat untuk menguji coba kendaraan otonom yang dirancang khusus untuk pengiriman jarak pendek. Kendaraan ini, yang digambarkan menyerupai “slow cooker” beroda berukuran besar, mampu membawa muatan setara dengan dua kantong belanjaan dari pusat distribusi atau toko ritel langsung ke konsumen.
Dilengkapi GPS, pelanggan dapat memantau pergerakan kendaraan secara real-time. Proses pengambilan barang pun disederhanakan; pelanggan dapat membuka kompartemen kendaraan menggunakan aplikasi smartphone saat tiba di depan pintu. Meskipun beroperasi secara otonom hampir sepanjang waktu, setiap unit tetap diawasi oleh operator manusia yang siap mengambil alih kendali secara manual jika diperlukan, serta dapat berkomunikasi dengan pelanggan melalui sistem audio terintegrasi. Perkiraan Starship menunjukkan bahwa biaya pengiriman menggunakan teknologi ini dapat 10 hingga 15 kali lebih rendah dibandingkan metode konvensional.
Solusi “Last Mile” yang Lebih Efisien
Inovasi seperti yang dilakukan Starship berupaya mengatasi salah satu tantangan terbesar dalam industri logistik saat ini: menekan biaya pengiriman pada “mil terakhir” (last mile) dalam rantai pasok. “Dalam dunia logistik, mil terakhir adalah bagian termahal dari keseluruhan proses pengiriman,” ujar Tom Caporaso, CEO Clarus Commerce. “Oleh karena itu, banyak pihak yang berinovasi untuk menghadirkan produk ke tangan konsumen dengan biaya serendah mungkin.”
Berbeda dengan Amazon yang menjajaki penggunaan drone untuk mengatasi masalah mil terakhir, kendaraan otonom darat menawarkan keunggulan tersendiri. Michael Kay, co-director of operations research di North Carolina State University, berpendapat bahwa kendaraan otonom lebih ekonomis dibandingkan drone untuk pengiriman harian. “Jika kita ingin pengiriman ke rumah untuk hampir semua kebutuhan dan mengurangi frekuensi kunjungan ke toko secara signifikan, maka transportasi darat adalah solusi yang paling efektif dari segi biaya,” jelasnya. “Drone mungkin cocok untuk produk bernilai tinggi atau prioritas mendesak, namun untuk barang umum seperti sekotak susu, drone tidak seefisien teknologi darat.”
Proyeksi Masa Depan dan Potensi di Indonesia
Kay memprediksi bahwa dalam 15 hingga 20 tahun mendatang, 80 hingga 85 persen pengiriman ke rumah akan dilakukan oleh kendaraan otonom, yang memungkinkan konsumen untuk tidak perlu lagi keluar rumah untuk berbelanja. Ia membayangkan kendaraan otonom di masa depan akan lebih besar dan beroperasi di jalan raya, berbeda dengan prototipe Starship yang dirancang untuk trotoar.
Ia menambahkan bahwa kepadatan pembangunan di Amerika Serikat, yang relatif lebih rendah dibandingkan Eropa, justru menjadi lahan subur bagi teknologi kendaraan otonom. “Kurangnya pengembangan transportasi publik yang mahal di AS justru menjadi keberuntungan bagi kedatangan mobil otonom yang akan menyelamatkan kita dan memberikan fleksibilitas jangka panjang,” katanya.
Seluruh teknologi yang ada pada mobil penumpang otonom dapat diadaptasi untuk kendaraan pengiriman. “Sektor pengiriman barang akan menjadi aplikasi pertama yang sangat baik untuk teknologi ini,” ujar Kay. Ia sedang meneliti jaringan distribusi yang terdiri dari pusat-pusat distribusi yang melayani sekitar 2.000 rumah, sehingga jarak tempuh kendaraan pengiriman menjadi sangat pendek, yaitu 1 hingga 2 mil.
Kendaraan ini dapat digunakan untuk pengiriman ke rumah pada siang hari, dan pada malam hari dapat digunakan untuk mengangkut barang antar pusat distribusi. “Dengan demikian, jika Anda memesan sesuatu yang tersedia di jarak 10-15 mil dari rumah Anda, barang tersebut akan bergerak melalui jaringan di malam hari sehingga keesokan harinya hanya berjarak satu atau dua mil dari Anda,” terang Kay. Kendaraan ini akan cukup kecil untuk efisien dalam pengiriman langsung ke rumah, namun cukup besar (sekitar 1.000 pon) untuk beroperasi di jalan umum. Berbeda dengan kendaraan logistik konvensional yang berhenti di banyak lokasi, kendaraan otonom ini dapat didedikasikan untuk satu pengiriman.
Jaringan yang ia usulkan bersifat netral terhadap vendor, memungkinkan perusahaan logistik yang ada untuk terhubung, layaknya konektivitas internet. “Penelitian saya berfokus pada pengembangan protokol dan metodologi umum yang tidak spesifik untuk perusahaan tertentu,” jelasnya. “Hal ini akan memungkinkan perusahaan kecil sekalipun untuk memiliki kapabilitas dan akses layanan yang sama dengan perusahaan besar.”
Seiring otomatisasi merambah ke segmen pengiriman terakhir, penerimaan publik terhadap penggantian peran kurir manusia oleh mesin otonom masih menjadi pertanyaan. “Penerimaan publik kemungkinan akan menjadi hambatan terbesar bagi inovasi-inovasi baru ini,” kata Caporaso.
Roger C. Lanctot, associate director for the global automotive practice at Strategy Analytics, memperkirakan bahwa studi akan dilakukan mengenai reaksi masyarakat terhadap kendaraan tanpa awak ini. “Apakah mereka akan mendorongnya? Apakah mereka akan menjatuhkan barang di depannya? Apakah orang akan bersikap hostile terhadap mereka?” tanyanya.
Namun, jika melihat tren historis, penerimaan publik kemungkinan hanya akan menjadi hambatan sementara. “Meskipun robot pengiriman ini terdengar seperti dari kartun ‘The Jetsons’, saya rasa kita akan melihatnya dalam beberapa tahun ke depan,” ungkap Caporaso. Kay menambahkan, “Saya berharap dapat menceritakan kepada cucu saya tentang bagaimana orang harus pergi ke toko dan memuat barang ke mobil. Semoga, hal itu akan tampak aneh bagi mereka seperti membicarakan kehidupan sebelum smartphone.”
Indonesia di Era Pengiriman Otonom: Sebuah Peluang Transformasi Logistik?
Relevansi teknologi pengiriman otonom bagi Indonesia sangatlah signifikan. Sebagai negara kepulauan dengan tantangan geografis yang unik dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, efisiensi logistik menjadi kunci daya saing. Potensi penurunan biaya pengiriman, seperti yang diuraikan dalam artikel ini, dapat memberikan dampak positif langsung pada harga barang yang sampai ke tangan konsumen, terutama di daerah terpencil. Selain itu, adopsi teknologi ini dapat mendorong inovasi dalam infrastruktur pendukung, seperti jaringan pusat distribusi yang terintegrasi dan sistem manajemen lalu lintas yang cerdas. Namun, implementasi di Indonesia juga akan menghadapi tantangan tersendiri, termasuk regulasi yang perlu disesuaikan, kesiapan infrastruktur jalan dan trotoar, serta aspek penerimaan sosial dan potensi dampaknya terhadap lapangan kerja di sektor logistik tradisional. Dengan pendekatan yang strategis dan inklusif, Indonesia berpeluang memanfaatkan revolusi pengiriman otonom ini untuk mentransformasi sistem logistiknya menjadi lebih efisien, terjangkau, dan adaptif terhadap kebutuhan masa depan.
Sumber: technewsworld















