Rumah Pintar: Potensi, Kenyamanan, dan Tantangan Konektivitas
Perangkat rumah pintar kini telah menjadi bagian dari kehidupan modern di Amerika Serikat, dengan jumlah kepemilikan yang terus meningkat. Sebuah survei daring menunjukkan bahwa 41 persen responden telah memiliki perangkat rumah pintar.
Mayoritas pengguna, yaitu 48 persen, mengelola perangkat mereka melalui aplikasi seluler. Dari segi jenis perangkat, 20 persen memiliki peralatan rumah tangga yang terhubung, 16 persen menggunakan termostat pintar, 12 persen memakai perangkat keamanan pintar, dan 10 persen menggunakan solusi pencahayaan pintar.
Penjualan peralatan rumah tangga pintar seperti kulkas dan mesin cuci mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2017, dan diprediksi akan mendominasi lebih dari separuh pasar global pada tahun 2021. Konektivitas utama perangkat ini adalah melalui WiFi. Pengiriman perangkat yang dikendalikan suara, seperti Amazon Echo dan Google Home, juga melonjak 159 persen pada tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Platform di balik perangkat ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengumpulkan aliran data rumah pintar yang semakin bernilai. Data ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam tentang rumah yang dihuni, tetapi juga akan menjadi fondasi bagi generasi baru layanan terintegrasi yang berharga,” ujar Jonathan Collins, direktur riset di ABI Research.
Hampir 40 persen dealer sistem keamanan interaktif di AS melaporkan bahwa lebih dari separuh penjualan mereka mencakup perangkat rumah pintar. Separuh dari dealer yang belum menawarkan sistem interaktif berencana melakukannya dalam 12 bulan ke depan. Tren ini mengindikasikan semakin banyaknya perangkat rumah pintar yang saling berkomunikasi melalui WiFi dan terhubung ke internet.
Dampak Gangguan Koneksi Internet
Muncul pertanyaan krusial mengenai apa yang terjadi ketika koneksi internet terputus. Insiden pemadaman layanan oleh penyedia seperti AWS, yang berdampak pada kontrol suara Alexa, serta gangguan server Google dan serangan siber, telah terjadi.
“Dampak hilangnya koneksi internet akan sangat bervariasi tergantung pada area rumah pintar yang terpengaruh,” kata Filipe Oliveira, analis pasar di FutureSource Consulting. Tingkat dampaknya juga bergantung pada fitur spesifik perangkat.
Perangkat seperti kunci pintar yang hanya beroperasi melalui WiFi dapat menyebabkan rumah terkunci saat terjadi gangguan. Namun, sebagian besar kunci pintar dipasang sebagai pelengkap kunci manual. Perangkat lain, seperti mesin cuci, akan tetap berfungsi untuk tugas utamanya meskipun perintah suara jarak jauh tidak dapat diakses.
Sistem keamanan diprediksi akan menjadi bagian yang paling terdampak. Siaran langsung dari kamera keamanan yang terhubung akan terhenti, meskipun kamera dengan penyimpanan internal dan cadangan baterai masih dapat merekam video.
Mitigasi Dampak Gangguan
Tom Kerber, direktur strategi IoT di Parks Associates, menyarankan agar pemilik rumah memiliki sistem yang mendukung konektivitas berkelanjutan. Sistem keamanan dan kritis lainnya seringkali dilengkapi dengan redundansi seperti cadangan baterai dan koneksi seluler cadangan untuk memastikan fungsinya saat listrik atau koneksi terputus.
Peningkatan jumlah perangkat rumah pintar yang dapat dipasang sendiri oleh konsumen dapat memperburuk masalah ini, karena banyak konsumen berasumsi perangkat akan berfungsi sebagaimana mestinya tanpa persiapan tambahan untuk kemungkinan hilangnya koneksi internet.
“Jangan membeli dan memasang perangkat yang jika koneksi internetnya hilang, pengguna akan berada dalam posisi yang lebih buruk daripada menggunakan perangkat non-terhubung,” ujar Oliveira. Pengguna juga disarankan untuk mengetahui cara mengoperasikan perangkat pintar secara manual, bahkan jika biasanya dikendalikan melalui suara.
Bagi perangkat yang dipasang sendiri, Kerber merekomendasikan penggunaan cadangan baterai dan koneksi seluler, serta memilih router jaringan rumah yang mendukung sistem pemantauan dan optimalisasi koneksi.
Rob Enderle, analis utama di The Enderle Group, menekankan pentingnya mengetahui cara mengoperasikan perangkat IoT dalam keadaan darurat dan mengkomunikasikan rencana cadangan kepada keluarga. Penggunaan sistem UPS untuk sistem kritis saat terjadi pemadaman listrik juga disarankan.
Enderle menambahkan agar menyimpan kunci fisik untuk kunci pintar dan menempatkan semua manual serta peralatan terkait di satu tempat yang mudah diakses. Michael Jude, manajer riset di Stratecast/Frost & Sullivan, menyarankan agar setiap perangkat pintar memiliki kontrol manual dan memiliki lebih dari satu cara untuk mengakses agen cerdas yang mengendalikan rumah pintar, seperti perangkat lokal dan aplikasi seluler.
Relevansi untuk Indonesia: Menyongsong Era Rumah Terhubung dengan Bijak
Meskipun artikel ini berfokus pada kondisi di Amerika Serikat, tren peningkatan adopsi perangkat rumah pintar yang digambarkan memiliki relevansi signifikan bagi Indonesia. Seiring dengan penetrasi internet yang semakin luas dan pertumbuhan kelas menengah, adopsi teknologi rumah pintar di tanah air diprediksi akan terus meningkat. Penting bagi masyarakat Indonesia untuk memahami tidak hanya potensi kenyamanan yang ditawarkan, tetapi juga potensi kerentanan, terutama terkait dengan konektivitas.
Ketergantungan pada koneksi internet untuk operasional perangkat pintar menimbulkan tantangan tersendiri di negara dengan infrastruktur yang masih berkembang di beberapa area. Gangguan koneksi yang sering terjadi, baik karena faktor teknis maupun alam, dapat berdampak pada fungsionalitas perangkat, khususnya yang berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan.
Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya memiliki rencana cadangan, pemahaman tentang cara operasional manual perangkat, serta pemilihan perangkat yang cerdas dan memiliki fitur redundansi menjadi krusial. Dengan kesadaran dan persiapan yang matang, masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan kemajuan teknologi rumah pintar secara optimal sambil meminimalkan risiko yang menyertainya, menciptakan hunian yang benar-benar cerdas dan tangguh.
Sumber: technewsworld















