X Alami Penurunan Keterlibatan Pengguna dan Kemampuan Mengarahkan Trafik Publikasi
Platform media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, dilaporkan mengalami penurunan signifikan dalam hal keterlibatan pengguna dan kemampuannya untuk mengarahkan trafik ke situs web penerbit. Fenomena ini telah memicu diskusi dan perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.
Debat dan Laporan Mengenai Kinerja X
Perdebatan mengenai kemampuan X dalam mengarahkan trafik ke penerbit mencuat akhir pekan lalu ketika Nikita Bier, kepala produk X, dan Nate Silver, seorang analis data yang pernah bernaung di FiveThirtyEight, terlibat dalam diskusi publik. Disusul kemudian oleh laporan dari NiemanLab pada Rabu, yang mengindikasikan bahwa penambahan tautan pada unggahan X justru berdampak negatif pada keterlibatan.
Pada Kamis, Electronic Frontier Foundation (EFF), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada hak-hak digital, mengumumkan penghentian aktivitasnya di X. Keputusan ini diambil setelah EFF mengamati penurunan hasil yang signifikan dari unggahannya di platform tersebut.
Dalam sebuah posting blog, manajer media sosial EFF, Kenyatta Thomas, menyatakan bahwa keputusan untuk keluar dari X setelah hampir dua dekade bukanlah hal yang ringan. Ia menjelaskan bahwa secara matematis, platform tersebut tidak lagi menguntungkan bagi EFF.
Thomas merinci bahwa pada tahun 2018, unggahan EFF di Twitter mampu mencapai 50 hingga 100 juta tayangan (impressions) per bulan. Namun, pada tahun 2024, sekitar 2.500 unggahan di platform tersebut hanya menghasilkan sekitar 2 juta tayangan per bulan. Tahun lalu, 1.500 unggahan EFF hanya mendapatkan sekitar 13 juta tayangan sepanjang tahun.
“Secara blak-blakan, sebuah unggahan X saat ini menerima kurang dari 3% dari jumlah tayangan yang diperoleh sebuah cuitan tujuh tahun lalu,” tulis Thomas.
EFF menegaskan akan tetap aktif di platform lain seperti Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan web sosial terbuka lainnya, dengan catatan bahwa keberadaan mereka di suatu platform bukanlah bentuk dukungan terhadap layanan tersebut.
Thomas menambahkan, “Kami bertahan karena orang-orang di platform tersebut juga berhak mendapatkan akses informasi. Kami bertahan karena beberapa unggahan kami yang paling banyak dibaca adalah yang mengkritik platform tempat kami mengunggah.” Namun, ia menyimpulkan, “X bukan lagi medan pertempuran berlangsung.”
Penerbit Lain Ikut Meninggalkan X
EFF bukanlah satu-satunya organisasi yang meninggalkan X. Sejumlah penerbit berita ternama seperti NPR, PBS, The Guardian, Le Monde, serta banyak akademisi, tokoh publik, dan pemerintah daerah juga telah mengambil langkah serupa.
Beberapa alasan di balik keputusan para organisasi berita ini bervariasi. Bagi NPR dan PBS, keputusan tersebut merupakan reaksi terhadap label “media yang terafiliasi negara” yang disematkan oleh Elon Musk, sebuah label yang biasanya diperuntukkan bagi corong propaganda pemerintah yang tidak memiliki independensi editorial. Sementara itu, Le Monde mengambil langkah serupa sebagai respons terhadap kedekatan Musk dengan Donald Trump.
Namun, faktor utama yang mungkin membuat mereka bertahan adalah potensi trafik yang bisa didapatkan. Saat ini, setiap sumber trafik sangat berharga bagi penerbit, terutama di tengah pergeseran perilaku konsumen daring. Peningkatan penggunaan kecerdasan buatan (AI) turut mengurangi trafik ke penerbit, bersamaan dengan penurunan rujukan dari mesin pencari dan Facebook. Kondisi ini telah memaksa banyak ruang redaksi untuk gulung tikar atau melakukan pemutusan hubungan kerja.
Perdebatan Mengenai Strategi Penggunaan X
Dalam perdebatan dengan Nate Silver, Nikita Bier berpendapat bahwa beberapa kantor berita menggunakan X secara keliru. Bier menekankan bahwa organisasi berita seperti The New York Times seharusnya mengunggah konten yang mendorong percakapan di platform X, bukan sekadar menggunakan X sebagai saluran berita untuk mempublikasikan judul dan tautan.
Nate Silver, di sisi lain, menunjukkan bahwa bahkan ketika ia berusaha keras untuk mendorong diskusi di platform, hal itu tidak memberikan peningkatan trafik yang signifikan ke situs webnya. “Konversi ke trafik di luar platform sangatlah biasa-biasa saja,” tulis Silver di X. “Mungkin 2-3% dari pembaca untuk artikel Silver Bulletin, bukan sekitar 1%.” Ia membandingkannya dengan Twitter yang dahulu menyumbang sekitar 15% trafik ke FiveThirtyEight.
Bahkan beberapa pihak yang berseberangan dengan Silver sepakat dengan penilaiannya terhadap X. Silver mencatat bahwa platform tersebut kini didominasi oleh influencer konservatif, dan banyak akun teratas dalam hal keterlibatan dinilai berkualitas rendah. Sebagai contoh, Silver menyoroti akun “Catturd,” seorang influencer sayap kanan yang dikenal menyebarkan teori konspirasi, memiliki lebih banyak keterlibatan dibandingkan The New York Times.
Elon Musk sendiri membantah analisis tersebut, menyebut data Silver sebagai “omong kosong.” Laporan NiemanLab yang menganalisis 200 unggahan terbaru dari 18 penerbit besar secara umum mendukung klaim Silver. Laporan tersebut menemukan bahwa kantor berita yang mempublikasikan tautan bersama unggahan X mengalami keterlibatan yang rendah, termasuk pada unggahan selanjutnya.
Hal ini tidak serta-merta berarti X secara sengaja menurunkan peringkat unggahan tersebut, meskipun perusahaan mengklaim telah menghentikan praktik tersebut. Kemungkinan besar, X memang tidak lagi semenarik dulu sebagai platform untuk mengarahkan trafik.
Implikasi bagi Indonesia: Kebutuhan Adaptasi Platform Digital
Fenomena penurunan kinerja platform X dan pergeseran perilaku pengguna ini memiliki relevansi yang cukup besar bagi Indonesia. Sebagai negara dengan populasi pengguna internet dan media sosial yang masif, Indonesia perlu mencermati tren ini. Organisasi, media, dan individu di Indonesia yang bergantung pada platform X untuk jangkauan dan penyebaran informasi perlu mengevaluasi kembali strategi mereka.
Pergeseran ini menggarisbawahi pentingnya diversifikasi kanal komunikasi digital. Bergantung pada satu platform saja dapat berisiko ketika platform tersebut mengalami perubahan algoritma, kebijakan, atau bahkan penurunan popularitas. Bagi media massa di Indonesia, ini menjadi pengingat akan pentingnya membangun ekosistem digital mandiri, seperti situs web berita yang kuat dan buletin elektronik, yang tidak sepenuhnya bergantung pada rujukan dari platform pihak ketiga.
Selain itu, tren ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan di ranah digital tidak hanya soal kehadiran, tetapi juga soal relevansi dan kemampuan beradaptasi. Organisasi perlu terus memahami bagaimana audiens berinteraksi dan di mana percakapan penting terjadi. Bagi Indonesia, ini berarti perlunya upaya berkelanjutan untuk memahami lanskap digital yang terus berubah dan berinovasi dalam cara kita terhubung dan berbagi informasi.
Sumber: techcrunch














